Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika dunia ini, kini telah jadi hanya selebar daun kelor dan tatkala duniamu hanya selebar layar HP, sesungguhnya di manakah hatimu berada?
(Jeritan Nurani Manusia)
…
Teknologi dan Kehidupan
Hadirnya media berteknologi canggih adalah tanda kemajuan peradaban dunia. Sudah tentu sebagai kemajuan di bidang perkomunikasian. Apalagi, kini telah hadir ‘kecerdasan buatan’
(AI) artificial intelligence, yang bahkan seolah-olah telah merajai kehidupan.
Sebuah Kesaksian Hidup
Pernahkah melihat orang yang begitu sibuk dengan SMS di telepon selulernya? Ini adalah gambaran yang tepat untuk kebanyakan dari kita, yang sedemikian sibuk dengan dunia sendiri, sama sekali tidak peduli kepada orang-orang di sekeliling, tidak peka pada sapaan yang Ilahi di dalam dan di atas kita. Begitulah, orang yang terikat lekat pada โlayar kecilโ mestinya belajar mengangkat wajahnya agar dapat melihat gambar besar situasi.
(Rm. Jerry M. Orbis, SVD)
Berhenti Sejenak
Bersama Tuhan 1
Itulah sebuah kesaksian berupa pengalaman, potret riil tentang kehidupan seorang Pastor SVD yang memang hidupnya lebih banyak melalang buana.
Antara Layar Kecil dan Gambar Besar
Kini kita hidup dan hidup kita selaku makhluk individu sosial, justru jadi kian abu-abu. Karena perhatian kita justru kian mengecil dan terpusat pada sebuah layar kecil saja.
Di saat itu, dalam momen personal, di manakah denyutan hati kita bergetar dan berada? Di mana pula denyutan gelisah resah cemas hati dari sesama kita?
Adalah sebuah fakta, bahwa kita seolah-olah berada di kejauhan sana, di belahan benua antah berantah, sedangkan saudara kita seolah berada nun jauh di sana, di sebuah benua lain. Padahal saat itu, antara punggungmu dan punggungnya justru sedang bersentuhan?
Dekat di Badan, Jauh di Hati
Dulu, orangtua kita pernah membisikkan petuah sosial tentang makna persahabatan, “jauh di mata, tapi dekat di hati.” Kini, justru telah berubah menjadi, “dekat di badan, tapi jauh di hati.”
Antara Fenomena dan Fakta
Semoga fenomena keterasingan dan isolasi psikis ini dapat kita jembatani lewat kesadaran serta usaha bersama, agar kita segera sadar akan bahaya kemanusiaan ini.
Bagaimana Riak Fenomena Keterasingan ini di Dalam Rumah Kita
Dulu umumnya, ketika Ayah tiba dari suatu perjalanan, maka akan beramai-ramai istri dan anak menyambut suami dan ayah. Tapi kini?
Tampaknya istri sedang bersantai ria di sudut kamar dan asyik berkomunikasi dengan seseorang di kejauhan sana. Kadang dia sambil memekik sengit, berbisik-bisik, dan kadang pula seolah sedang berpidato.
Demikian si sulung, remaja ABG, sambil tiduran di kursi panjang dengan kakinya digoyang-goyangkan, tak kalah meriah asyik bervideo call dengan seseorang di seberang sana.
Ayah yang malang itu akhirnya, diam-diam masuk ke kamarnya dengan tanpa ekspresi kerinduan.
Wahai dunia sejati, di manakah engkau kini berada? Siapakah lagi yang peduli dan mendengar rintihan pilu tangisan serta gelisah resah nurani kami?
Tuhan di atas sana, kini saya teringat akan rasa galau dan gelisah resah sang Agustinus, “Tuhan, hatiku tidak tenang, sebelum aku beristirahat di dalam Engkau!”
Nosce te Ipsum.
…
Kediri,ย 20ย Agustusย 2024

