Fr. M. Christoforus, BHK
“Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Maka, keluhuran bukanlah suatu tindakan, melainkan kebiasaan.”
(Aristoteles)
…
| Red-Joss.com | Saya teringat dengan kedua buah adagium berbahasa Latin yang berkaitan dengan serigala.
Titus Maccius Plautus pernah mencetus adagium berbahasa Latin, “Homo homini lupus est” dan “Homo homini socius est.”
Kelak, kedua adagium ini dipopulerkan lagi oleh Thomas Hobbes (1651).
Ada pun makna sentral dari keduanya adalah: “Manusia yang satu dapat menjadi serigala bagi sesamanya” dan “Manusia yang satu dapat menjadi sesama bagi sesama yang lain.”
Kisah Dua Serigala
Kepala suku Indian Cherokee yang sangat bijak itu sedang duduk bersantai dikelilingi oleh para cucunya.
Ia bercerita, bahwa ada dua ekor serigala yang hidup di dalam sanubari manusia.
Serigala pertama mengajak manusia kepada kebaikan, kesopanan, kejujuran, ketulusan, kedamaian, dan kebajikan.
Sedangkan serigala kedua selalu mendorong manusia pada kejahatan, kesombongan, keserakahan, dan kemarahan.
Dijelaskan sang Kakek, bahwa kedua ekor serigala itu selalu berkelahi demi mendominasi yang lain.
Dalam keterpukauan, bertanyalah seorang cucunya, “Serigala yang mana yang akan menang, Kek?”
“Ya, tentu serigala yang selalu kau beri makan!”
(Hamdan Hamedan)
Berguru pada Saru
Fakta hidup telah membuktikan, bahwa seringkali seorang manusia dapat bertingkah mirip kebuasan seekor serigala.
Padahal bukankah manusia itu sebagai makhluk ciptaan yang paling rasional dan berinsting kelembutan?
Berdasarkan analisis antropologis, bahwa makhluk manusia itu memang sebagai ciptaan yang bermultidimensi. Dia sukar untuk ditebak, apa maunya. Kadangkala ia tampak lembut dan penurut, namun pada saat yang lain, ia berubah drastis jadi brutal serta nanar liar.
Ya, itulah tabiat sejati makhluk manusia. Bahkan ia digelari sebagai ciptaan yang paling misterius.
Secara filosofis memang benar, bahwa di dalam diri seorang manusia selalu terdapat dua buah kekuatan yang sering dan selalu bertolak belakang.
Demikian rapuhnya gejolak suara batin anak manusia. Bahkan sang rasional itu dapat berubah drastis sebagai si melankolis yang rapuh tak berdaya. Namun di saat yang lain, ia dapat menjadi buas dan nanar.
Sulit untuk ditebak, apa sesungguhnya yang sedang berberkecamuk di dalam sanubarinya?
Secara psikologis, bahwa semua realitas itu berpulang kepada diri kita sendiri.
Ternyata Anda orang yang telah memelihara dan merawatnya. Anda juga telah menyuapinya.
Berarti Anda telah membiarkan jiwa latah dan sikap keras kepala dengan bersikap acuh tak acuh pada pentingnya pendidikan moral serta etika.
Jadi, serigala itu adalah gejolak serta keonaran sikap batin Anda sendiri.
Anda telah memelihara dan merawat seekor serigala nanar di dalam sanubari Anda!
…
Kediri,ย 22ย Juniย 2024

