| Red-Joss.com | Menjelang kepulangan Ibu pada Allah, ia meminta maaf pada saya, karena merasa bersalah tidak bisa membiayai kuliah seperti pada kakak yang lain.
“Jangan menjadi beban Ibu. Saya selalu bersyukur dan berterima kasih atas pengorbanan Ibu,” kata saya sambil memeluknya, karena terharu.
Saya membesarkan hati Ibu. Saya menguatkan Ibu, lalu membacakan firman Tuhan (Mat 6: 34) untuknya, “Jangan khawatir akan hari besok, karena besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
Begitu pula saat anak-anak saya tidak ada yang tertarik meneruskan usaha keluarga. Apakah bersedih? Tidak! Kendati saya telah mengenalkan usaha itu sejak mereka kecil.
Saya sadar sesadarnya. Anak-anak zaman now itu selalu bergerak aktif, malas menunggui pelanggan yang datangnya tidak pasti.
Berbeda dengan saya. Dengan melayani pembeli, saya ngobrol, berbagi ilmu, trik-trik pemasaran, dan cara mengembangkan usaha. Dalam menunggu pelanggan, saya dapat mengetik dan berkarya.
Semua ada masanya, hal itu saya sadari benar, supaya istri juga tidak berkecil hati. Meski dalam merintis itu saya harus berdarah-darah untuk memajukan usaha. Anak-anak juga menikmati hasilnya.
“Yang penting, kita telah mengantar mereka mandiri,” jelas saya sambil membesarkan hati istri agar tidak risau.
Saya amat beruntung mempunyai orangtua pengertian dan mengajar kemandirian pada anak-anaknya agar tidak bergantung pada siapa pun, meskipun saudara sendiri. Jika tidak kesulitan dan terpaksa sekali. Inti ajaran orangtua, sesungguhnya hidup ini harus mandiri dan untuk memberi. Karena kita dianugerahi Allah secara cuma-cuma.
Melepaskan kelekatan dunia, itulah sesungguhnya makna hidup ikhlas. Faktanya, banyak orang dikuasai oleh keingannya sendiri. Mereka tidak hanya pusing, tapi, juga susah dan tersiksa sendiri. Sehingga hidup makin berbeban berat.
Berbeda hasilnya, jika kita berani menyederhanakan hidup ini dengan berpikir positif dan berprasangka baik pada siapa pun, sehingga hati ini tidak mudah terluka dan sakit. Tapi berlimpah sukacita dalam Tuhan.
“Hendaknya kamu jangan khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipin4: 6).
Ya, anak-anak mempunyai masa depan dan rezeki sendiri. Lebih bijak berserah dalam doa dan bersyukur, karena Tuhan selalu memberi yang terbaik pada mereka yang percaya dan mengimani-Nya.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

