| Red-Joss.com | Ketika seorang anak lelaki dimanjakan oleh Ibunya, ia akan di’judge’ atau dicap sebagai anak mami.
Hingga saat ini definisi anak mami memang negatif di mata orang-orang. Sering kali orang berkata anak mami (manja dan minder) itu sangat bergantung pada Ibunya.
Beberapa kali, ketika masih di Kerasulan Keluarga, saya menemani keluarga yang mempunyai masalah, karena suaminya termasuk dalam kategori anak mami. Sebagai suami, ia tak dapat mengambil keputusan sendiri. Istrinya tidak dianggap, sebab segala sesuatunya mesti bertanya ke maminya dulu. Mau beli baju, tanya mami. Mau pindah rumah, tunggu mami. Ingin beli motor tanya mami. Anaknya mau masuk sekolah mana, tunggu saran mami. Mengatur rumah, mamilah yang berkuasa melakukannya. Masakan, semua mesti seperti masakan mami.
Jujur kita tidak tahu, bagaimana mereka dulu berpacaran. Tapi, dalam berkeluarga, menjalankan bahtera rumah tangga bersama anak mami itu sungguh merepotkan, bahkan sulit diwujudkan. Mengapa, sebab watak anak mami ini sudah terbentuk sejak masa kecilnya. Menurut saya, anak mami malah sudah menjadi suatu cacat kepribadian, semacam ‘defect’, yang sulit direvisi.
Menurut pakar parenting yakni (Rm YR Widada) bentuk lain dari anak mami adalah, jadi pemalas abadi, apa-apa ditanggapi dengan mager alias malas gerak. Maunya segalanya sudah tersedia, tidak perlu usaha. Sebetulnya bukan persis malas, tapi lebih karena tidak tahu harus bagaimana mesti berusaha. Daripada susah-susah mencari tahu, ya, lebih memilih diam. Kesannya dia malas. Yang benar ialah, bahwa dia tidak punya ide, tidak punya ‘vocabulary’ untuk berpikir dan bertindak sesuatu. Karena sebagai anak mami, dia dari dulu tidak perlu susah berpikir apalagi berupaya. Mami sudah memikirkan semuanya. Dia juga tidak perlu berusaha, karena saking cintanya mami, segalanya sudah diupayakan maminya.
Bahkan dia tidak tahu, bagaimana meminta sesuatu, sebab sebelum meminta, maminya telah menyediakan. Sebelum tahu rasanya lapar dan haus, mami sudah memberinya makan dan minum. Maka jangan heran, jika tidak kesampaian apa yang dimaui, dia akan marah besar, bahkan menyakitkan dan merusak relasi di antara orang-orang terdekat. Sebab sejak kecil selalu dituruti oleh maminya. Dia menikmati, alias menyalahgunakan cinta maminya untuk kenikmatan, kenyamanan hidupnya.
Mengapa ada mami (juga papi) yang berbuat demikian terhadap anaknya? Mami atau papi demikian, pasti bukan karena ia jahat, tetapi karena setahu dia itulah yg terbaik dalam mencintai anaknya. Barangkali, karena ia tidak kuasa mengatasi masalah atau pengalaman pahitnya. Misalnya, riwayat mendapatkan si anak itu berbelit. Entah karena lama menikah baru punya anak. Atau karena pengalaman pahit dengan kakak anak mami itu. Traumanya tak pernah diolah dan diintegrasikan dalam hidupnya. Akibatnya, anak yang lahir sesudahnya terlalu ‘dieman-eman’, disayang-sayang. Mami tak ingin anaknya kecewa, apalagi terluka. Walau sebenarnya, yang tak ingin terluka dan kecewa lagi adalah maminya. Anaknya hanya kurban atau sasaran.
Bagaimana bisa terjadi anak sedemikian istimewa? Anak mami itu terbentuk secara perlahan, di masa kecilnya. Yang pertama, segala sesuatunya diurus oleh maminya. Sebelum anak minta sesuatu anak sudah diberi, disodori, ditawari, sehingga anak tinggal menikmani. Pilihan mami sudah pasti paling bagus. Jadi anak jarang atau tidak pernah sendiri memproses dan berproses sendiri.
Proses perkembangan anak, dalam banyak hal diambil alih oleh orangtuanya, khususnya oleh maminya. Misal anak tidak mengalami sendiri memilih minum air atau minum susu. Jenis susunya sudah dipilihkan mami. Keinginan anak untuk mencoba sendiri, tak pernah dimungkinkan; tentu dengan alasan yang terbaik maminya. Karena mami sayang anak, tidak mungkin menjerumuskan. Sebenarnya tidak menjerumuskan, tapi melemahkan, menghilangkan kemampuan anak untuk jadi dirinya sendiri.
Gambaran yang paling mudah dimengerti, ialah cerita kepompong. Ketika masih kecil, mungkin kita pernah menolong kepompong. Karena kasihan, kita membantu calon kupu yang sedang berjuang itu dengan susah payah mau ke luar dari kepompong, dengan merobek kulit kepompongnya. Kita membantu membukakan kepompong tersebut, sehingga calon kupu itu mudah sekali ke luar dari kepompong. Sehingga tanpa sadar kita mencelakai kupu-kupu tersebut.
Sebab ketika bakal kupu berjuang, merobek kulit kepompong, sebenarnya dia sedang berposes membuat sayapnya jadi kuat, tidak lembek. Sayap yang kuat, diperlukan untuk terbang. Karena bantuan kita, proses menguatkan sayap terpotong, dan sayapnya jadi lemah, tidak cukup kuat untuk terbang. Kita tidak memberi kesempatan kupu itu berproses menguatkan sayapnya, karena kita mengambil alih prosesnya. Akibatnya, kupu itu tidak bisa terbang, jatuh ke tanah dan mati dipatok ayam.
Sama halnya dengan mengasuh anak. Jika kita mengambil alih proses anak untuk menjadi dirinya, ia tak bakalan jadi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, orangtua, atau siapa pun yang mengasuh anak, hendaknya jangan sampai mengambil alin proses anak. Anak yang kotor, lecet, jatuh, kecewa, salah, menangis adalah proses menjadi dirinya sendiri. Tugas kita adalah membantu agar proses itu terjadi dengan baik. Ibarat kupu-kupu, anak dapat terbang mencari madu hidupnya.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

