Saya pernah dibuat tercengang dengan satu kasus yang terjadi di negeri kita ini: seorang murid yang jago tawuran atau berkelahi, tapi nilai pendidikan moralnya sangat bagus. Kok bisa?
Ya, bisa. Hal ini menunjukkan, bahwa kemampuan maksimal murid itu hanya sebatas hafal pada nilai-nilai kebaikan. Murid itu hanya menjadi celengan, tabungan dari guru moral, yang dikeluarkan hanya pada saat ujian.
Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dan dipelajari belum jadi benih untuk menata perilakunya di tengah saudara dan masyarkatnya. Jika hal ini kita biarkan, berarti gawat. Karena negeri kita ini akan dipenuhi dengan idola-idola baru, yaitu jago tawuran, berkelahi, kekerasan, dan lain-lain. Miris!
Siapa yang tidak kesal mendapati seseorang yang berlagak patuh tetapi bandel?
Coba perhatikan sikap anak sulung yang dikisahkan dalam Injil ini. Awalnya diperlihatkan, bahwa ia tampak penurut dan taat pada orangtua. Ia menyanggupi dan siap sedia untuk pergi ke ladang. Tapi nyatanya bandel alias mau enaknya sendiri dan malas. Ia mengiyakan perintah orangtua, tapi tidak pergi ke ladang.
Ada satu cerita tentang seekor anak ayam yang keras kepala. Ia selalu mengikuti kemauannya sendiri. Walaupun dilarang Ibunya, anak ayam itu suka berjalan jauh dan bermain di tempat yang asing.
Suatu hari, ketika anak ayam itu sedang berjalan-jalan, ia melihat gua yang bagus. Dalam gua itu ada banyak lalat. Ia suka makan lalat itu. Maka ia berlari ke dalam gua untuk mencotok lalat-lalat itu. Tapi tiba-tiba hap! Gua itu tertutup. Ia terkurung dan mati dalam gua. Ternyata gua itu adalah mulut buaya yang sedang terbuka, menunggu mangsanya.
Itulah akibat yang ditanggung, jika kita sering tidak menghiraukan nasihat orangtua atau orang yang dituakan. Menangis dan menyesal tiada guna, karena nasi telah jadi bubur.
Hari ini imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi memilih si bungsu daripada si sulung. Pilihan itu cukup beralasan. Karena mereka melihat sikap yang mengagumkan dalam diri anak itu. Meski awalnya Ia berteriak: “Aku tidak mau!” Tapi ia lalu menyesali sikapnya itu. Karena tidak pantas membantah perintah Ayahnya dengan kasar. Sehingga ia pergi dengan diam-diam dan bekerja seharian di kebun. Inilah anak yang baik!
Tuhan Yesus mau mengatakan, “Tirulah sikap anak yang terakhir itu.”
Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi yang biasanya menjebak Yesus, sekarang jadi terjebak sendiri. Yesus hendak mengatakan: kamu tidak seperti si bungsu itu! Sebaliknya Ia menyatakan kepada mereka tentang perempuan-perempuan sundal dan orang berdosa itu. Karena percaya, bahwa mereka yang belakangan itu justru menjadi yang pertama masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Sesungguhnya, jika kita ingin jadi yang terdahulu masuk ke dalam Kerajaan Allah, maka tuntutan pertama yang harus dimiliki adalah iman kepercayaan itu sendiri. Kepercayaan kepada Tuhan Yesus makin hari harus kian kokoh. Ibarat pohon yang berakar kuat dan kokoh.
Camkan pula yang ditulis Paulus kepada Jemaat di Kolese. Kita yang telah menerima Kristus Yesus, hendaknya hidup di dalam Dia. Berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaknya kita makin teguh dalam iman yang diajarkan-Nya, dan hendaklah hati kita berlimpah dengan syukur (Kol 2: 6-7).
Inilah kehidupan Kristiani yang dihayati dan tumbuh dari dalam. Karena yang diimani dan dihayati itu dipancarkan ke luar agar jadi terang, sehingga menerangi seluruh ruangan. Ibarat mutiara yang indah mempesona. Jadi, jangan sampai kehidupan Kristiani kita jatuh pada kebanggaan kosong tanpa ada isinya. Di luarnya tampak indah, merasa diri paling benar, dan tidak membutuhkan pertobatan. Hidup pun jadi datar dalam rutinitas.
Kita tahu, bahwa Tuhan menilai kita tidak atas dasar fakta kita memeluk agama mana secara formal, tapi Tuhan memandang kualitas hidup kita. Ia memandang kedalaman hati dan batin kita.
Coba diresapi pernyataan Tuhan Yesus yang ditulis Matius, ketika Ibu dan saudara/i-Nya mencari Dia. Pernyataan-Nya tegas sekali, “Siapa Ibu-Ku? Siapa saudara-saudari-Ku?” Yesus sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya berkata: “Inilah Ibu-Ku dan saudara-saudari-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dialah Ibu-Ku (Mat 12: 48-50).
Jika seperti itu, kita mau menjadi anak yang mana: sulung atau bungsu? Bagaimana jika kita memilih alternatif lain, yaitu menempatkan diri sebagai anak ketiga? Isinya: mengatakan ‘ya’ terhadap perintah Tuhan dan tekun melaksanakan segala perintah-Nya. Sehingga kita akan disebut sebagai saudara laki-laki, perempuan dan sebagai Ibu dan Bapa-Nya juga. Itu semua sangat mungkin terjadi. Mari kita lanjutkan peziarahan kita untuk taat dan setia pada-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

