Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Kini, saya pun teringat akan sebuah adagium Latin, “Maxima debitur puero reverentia.” Kasih sayang berlimpah, wajib diberikan kepada anak kecil. (Juvenal).
Saudara, suatu waktu, seorang pria paro baya menggandeng lengan sang putranya yang berusia lima tahun. Mereka sedang melintas di jalan. Dari arah berlawanan, mereka berpapasan dengan seorang tua, yang sudah dikenal saleh di desa itu.
Sang pria saleh itu menatap tajam pada si anak kecil itu, dan kemudian kepada sang ayahnya. Lalu, sang saleh itu pun bertutur, “Apakah ini putramu, berapa usianya?”
Sang ayah pun menjawab, “Ya, Bapa, benar, dia ini putra sulungku. Kini umurnya kini lima tahun.”
Sang pria saleh itu pun lalu berucap, “Semoga kelak, sang anak ini, akan jadi pemimpin agung di negeri ini.”
Sang ayahnya pun terperanjat dan bertanya, “Benarkah Tuan, kelak putraku ini akan jadi seorang pemimpin di negeri ini?”
Sesaat kemudian, sang pria saleh itu pun berujar, “Benar pria muda, aku, โฆ telah memandang pada kedipan bola matanya yang sangat berwibawa serta tampaknya penuh pertimbangan.”
Dan, sejak saat itu, sang ayah itu pun, โฆ tidak pernah melupakan akan ramalan itu.
Anak kecil, ya, si anak kecil. Jangan sekalipun kamu remehkan dan bahkan dicap sebagai pengganggu kerjamu.
Mereka punya dunia sendiri. Mereka punya dendang riang sendiri, bahkan mereka punya cita-cita serta hari depan sendiri.
Anak-anakmu, mereka itu, sesungguhnya, bukanlah milikmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang bebas menentukan masa depannya sendiri. Kau boleh memberikan tumpangan bagi raganya, tetapi tidak bagi jwanya. Janganlah kamu menyodorkan buah pikiranmu, sebab mereka mempunyai alam pikiran sendiriโฆ(Khalil Gibran).
Anak kecil, ini berarti, dia belumlah mencapai usia remaja, pemuda, dan apalagi dewasa, dan tua. Hal ini pun bermakna, bahwa rentangan waktu hidupnya masih sangat panjang, berliku, dan berngarai, bukan?
Hargailah mereka sebagai anak kecil. Mereka masih memiliki rentangan waktu panjang untuk bertumbuh dan berkembang menuju masa remaja, masa pemuda, dewasa, dan bahkan masa tuanya.
Berikan mereka didikan sejati, lewat tradisi kedisiplinan, keuletan, tanggung jawab, serta sikap hormat kepada sesama.
Kebijaksanaan pun telah mengajarkan, bahwa tidak ada anak yang nakal dan bodoh. Tidak ada anak yang bejat dan kurang ajar. Yang ada, hanyalah, bahwa sang anak itu, indahnya laksana sekuntum melati yang mekar berseri mewangi.
Sang anak-anak kita itu sungguh membutuhkan kesempatan serta sejumput waktu untuk dibentuk dan dipoles indah, justru pertama dan utama dari dalam rumahnya, keluarganya.
Ibu yang terhormat, akan dilihat dari tingkah laku di anak yang sanggup menghormati sesama. Ibu yang beradab, akan dijumpai pada diri anak yang santun dan hangat. Ibu yang saleh, akan dijumpai lewat sorot mata sang anak yang lembut menawan.
Maka, anak adalah aku, adalah kamu, jika kita telah menanamkan jiwa kesatria sejati di dada mudanya pada masa mudanya.
Adagium bangsa kita, ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.’
Lalu saya pernah ingat akan ucapan seorang guru agung,
“Biarkan anak-anak ini datang kepada-Ku, karena merekalah sang pemilik kerajaan Surga.”
…
Kediri, 27ย Februariย 2023

