Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
[Red-Joss.com] Anak jalanan adalah
si dia, si aku, si kau, si kamu, si kita, dan si mereka juga
Dia
yang meratap sendu di hulu hatimu dan hatiku
Sendunya
kehabisan butir air mata
dukanya pun hingga ketiadaan suka
Bunda
mengapa kau rela meranakan buah rahimmu di sini
sudi hapuskan air mata duka di cekung pipi anakmu ini
(Pada Sepotong Catatan)
Anak jalanan. Ya, sialnya nasib si anak jalanan. Siapakah sesungguhnya si anak jalanan dan juga siapakah kita? Kita dan mereka, sama-sama sebagai manusia. Kita dan mereka seharkat pun sederajat. Yang berbeda mungkin, kita bernasib lebih baik dan mereka ternyata tercecer dan terbuang di jalan.
Realitas pahit pedih ini memang, sungguh sebagai sebuah fakta mengenas menyayat hati. Mengapa sampai terjadi demikian? Siapa yang dianggap bersalah?
Realitas pahit pedih ini adalah buahnya. Ini merupakan ekses dari sebuah proses kehidupan anak manusia. Proses hidup yang bagaimana, sehingga berujung duka dan merana? Di mana letak titik krusialnya, sehingga berdampak terlunta dan terbuang?
Anak jalanan adalah juga anak manusia. Mereka adalah putra-putri kita. Nasib mereka pun menjadi tanggung jawab kita. Pemerintan kita, lewat Dinas Sosial, tentu sudah memiliki aneka kiat demi mengatasi problematika anak jalanan ini. Tapi, apa daya, faktanya masih saja ada anak-anak yang terlunta di jalan?
Mungkin juga, dalam konteks tertentu, anak-anak kita pun tergolong sebagai anak jalanan. Hidup mereka memang tampak nyaman dan aman di bawah naungan atap gubuk kita. Diberi jatah santapan siang dan malam, dan bahkan disekolahkan.
Kadang kala, sekalipun kebutuhan jasmaninya sudah terpenuhi, tapi sering jiwa serta nuraninya justru terbuang di atas aspal jalanan.
Ada kebutuhan terdalam yang dirindukan yang tak terpenuhi. Kebutuhan untuk dikasihi dan disayangi. Kebutuhan untuk didengarkan keluhan isi hatinya. Kebutuhan untuk dihargai prestasi kecilnya di sekolah dan di rumah.
Semoga, tetesan air mata duka sang Bunda Santa Monika, Ibunda Santo Agustinus, turut membasahi cekungan pipi merana para anak kita.
Mari kita menata pintu kehidupan rumah tangga kita, agar tidak seorang pun dari putra-putri kita yang akhirnya tercecer dan terbuang dari dalam gerbang nurani kita.
Ingatlah, kisah si anak hilang yang nasibnya sungguh beruntung, karena dia memiliki Bapa yang bermurah hati.
Mari, pandanglah potret kebahagiaan sejati dari dapur keluarga Kudus di dusun Nazaret ituโฆ!
Kediri, 6 Agustus 2023

