Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tatkala kokok sang ayam mulai terdengar berderai bersahutan, itu pratanda sang malam pun akan segera lewat.
Tatkala terdengar lantang suara sorakan anak-anak, itu pratanda sang mentari pun tiba.”
(Dari Nyanyian Swara sang Alam)
Ya, anak-anak. Kapan dan di dalam budaya mana pun sejatinya, mereka memiliki sebuah dunia spesial. Dunia yang hanya menjadi milik dan khas mereka.
Isyarat dan berbagai fenomena alam pun menjadi tanda yang teramat penting untuk mereka.
Anak-anak sangat tahu dan paham, kapan siang dan malam. Juga mereka tahu, kapan mereka harus segera kembali ke rumah dan bilamana, mereka spontan ke luar dari sekatan-sekatan malam.
Di sana, di bentangan hamparan alam lapang, dengan girang mereka menumpahkan dan mengekspresikan girang isi nurani mereka.
Ada anak yang bergurau tak menentu arah, ada juga yang saling bergelut.
Bagi anak yang bertalenta untuk menjadi pemimpin, dia pun akan segera mengomando teman-temannya.
Sesaat kemudian, tampak mereka seolah sudah diorganisasikan rapi. Mereka sudah terjun dan masuk ke dalam dunia khas anak-anak.
Tulisan “Anak-anak Bertelanjang Dada” sengaja diangkat oleh penulis untuk membangkitkan kembali gejolak emosi khas dunia anak-anak masa kecil sebagai sebuah kenangan indah.
Ternyata betapa dekat dan akrabnya anak-anak dengan alam ini.
Rerintikan lembut butiran gerimis dan sepoi sentosa semilir angin pagi berhembus adalah sahabat baik mereka.
Terik tusukan mentari dan lembutnya tiupan angin siang adalah kasih sang Bunda Bumi yang tidak ada duanya untu para anak bertelanjang dada ini.
Kaki-kaki berlepotan lumpur dan jidat-jidat kuyup adalah hiasan paling khas, yang justru kian membahagiakan nurani kecil mereka.
Wahai anak-anak bertelanjang dada, apa rahasia dari segudang gembira yang terpancar dari dada mudamu?
Rencana apa pula yang akan kamu lanjutkan pada keesokan hari, kala setia mentari kembali?
Tatkala kaki-kaki lelangit memerah redup dan derai arakan gulungan gemawan senja pun berarak pergi, sadarlah mereka, bahwa kini suara alam telah memanggil mereka untuk segera beranjak ke gubug impian mereka.
Wahai, anak-anak bertelanjang dada, semoga bahagiamu di hari ini, juga menjadi bahagiamu di hari esok.
Kediri, 12 Maret 2024

