“Let it go, let it God.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Semua orang pasti mempunyai salah, dosa, kelemahan, dan mempunyai masa lalu.
Tidak mudah memang menerima kekurangan dan kelemahan diri dan orang lain. Tidak mudah juga untuk menerima maaf dan memberi maaf. Jikapun bisa memaafkan maksimal tiga kali. Padahal Tuhan memberi batasan tidak terhingga.
Miris lagi saat ini, banyak orang mencari, mengumbar, dan membuli sesamanya yang salah, yang berdosa. Amat mudah mengingat kesalahan dan kelemahan orang lain, tapi mudah sekali melupakan kebaikan dan hal positif orang lain.
Mari kita belajar untuk mudah mengingat kebaikan dan hal positif sesama dan diri kita, daripada hal buruk dan negatif.
Mari kita belajar dari seruan Paus Fransiskus pada tahun Jubileum kerahiman.
Pengampunan itu memuat dua hal. Pertama: Liberation – pembebasan. Bahwa pengampunan itu membebaskan. Tuhan Yesus, saat di hadapkan dengan wanita yang kedapatan berzinah, mengatakan “Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.”
‘Let it go’ – pergilah. Mengampuni itu membebaskan, melepaskan, tidak mengingat terus kesalahan dan dosa orang lain. Sadarlah, bahwa kita semua juga tidak sempurna dan lemah.
Kedua: Restoration – pembaharuan. Pengampunan itu bukan hanya soal membebaskan, tapi juga soal pembaharuan, perbaikan, dan pemulihan. Kita berani untuk rendah hati membaharui diri. Meski hal itu tidak mudah. Sulit itu berarti tidak bisa. Kita mampu memperbaiki hati ini, jika disertai Tuhan.
Pengampunan itu akan tahan lama, bila kita menyertakan dan mengandalkan Tuhan. Kita menimba kerahiman Tuhan. Karenanya pengampunan itu membutuh doa.
Ampuni dan relakan dalam belas kasih Tuhan.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

