Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
"Pecunia non olet"
“Uang memang tidak berbau”
(Vespasianus)
[Red-Joss.com] Jika kita mendengar kata ‘amplop’, maka segera kita mengasosiasikan dengan sebentuk kertas persegi empat atau persegi empat panjang, berisi surat yang ditujukan kepada seorang atau sebuah lembaga.
Kita juga sering mendengar, ada kata amplop kelulusan, amplop surat undangan, amplop surat dinas, bahkan ada juga amplop pelicin atau amplop suap, amplop komisi; alias amplop di bawah meja dan bahkan ada yang disebut gratifikasi.
Amplop pelicin ini, sejenis amplop yang biasanya disodorkan di bawah meja antara seorang dengan pihak lain.
Tentu saja mempraktikkan jenis amplop model ini adalah tindakan yang salah, baik ditinjau secara hukum, moral, juga etika kehidupan.
Tindakan ini berorientasi melukai, mencederai, dan berkonotasi tindakan jahat. Tindakan main mata yang tidak sehat ini, biasanya dilakukan demi memuluskan atau menggolkan suatu upaya. Tentu, ini adalah amplop yang berisi uang haram. Praktik salah kaprah yang menistakan kesucian kemanusiaan.
Praktik kotor berkedok korupsi ini, telah menjamur di segala lini kehidupan negeri khatulistiwa yang didengung-dengungkan sebagai sebuah ‘taman raksasa berisi aneka rumah ibadat’ ini.
Semua itu ibarat jauh panggang dari api. Lain di mulut, lain pula di hati. Bahkan, sampai-sampai orang yang menolak korupsi, dicap sebagai tidak setia kawan. Orang itu harus dijauhi, dimusuhi, dan bahkan bila perlu dihabisi. Semua aksi konyol ini biasanya berjalan sangat rapi dan tertata apik.
Sikap kongkalikong ini oleh semua pihak sudah dianggap sama-sama tahu. Saling mengerti, merahasiakan, dan dianggap hal yang wajar dan biasa.
Dari mana datangnya budaya bermuka dua ini? Tentu, sumbernya bercokol dari dalam sanubari sang manusia.
Kemudian jari-jari gurita nan bisu ini mulai merangkai, mengait, lalu melingkar, dan akhirnya merambat serta merenggut semua. Inilah jejaring korupsi berjamaah!
Mari kita segera mengakhiri lingkaran jemari yang menggurita itu. Karena Tuhan tidak menghendakinya.
“Katakan ya, jika memang ya. Dan
katakan tidak, jika memang tidak. Selebihnya, berasal dari si iblis!”
Kediri, 3 Agustus 2023

