Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Wanita ini telah memberi lebih banyak daripada yang lain.”
(Amanat Sang Guru Agung)
…
| Red-Joss.com | Di malam itu, ada sebuah peristiwa sangat miris, namun sungguh bermakna bagi saya.
Pada misa Kamis Putih, (28/3/2024), malam hari di Gereja Santo Vinsensius a Paulo, Kediri. Saat saya sedang duduk memandang ke altar Gereja.
Saya dibisiki seorang pria paro baya yang sangat sederhana, lusuh, dan tampak ada derita di bola-bola matanya.
“Bagaimana caranya agar saya dapat masukan amplop ini ke kotak di depan Gereja?” tanyanya lirih.
Saya terperanjat, karena setahu saya, amplop-amplop APP itu seharusnya, sudah diserahkan sebelum hari Kamis Putih.
Namun, saya sempat menangkap, bahwa ada sebuah sinyal duka serta kegelisahan pada wajah polosnya.
Ia tampak tak tenang dan terbengong-bengong.
Sesaat kemudian, sekali lagi dia memiringkan tubuhnya ke arah telinga saya dan berbisik, “Tapi, amplop-amplop ini kosong, karena saya tidak punya uang. Saya hanya seorang tukang becak.”
Tanpa diminta, ia segera membukakan sebuah amplop berwarna merah menyala. Tampak secarik kertas koran bertuliskan, โTuhan, amplop ini kosong, saya tidak punya uang.โ
Tanpa kusadari mataku berkaca-kaca, bercampur aduk antara rasa kagum, karena kejujurannya, rasa haru atas kekurangannya, dan juga rasa perih atas sekeping hati tulusnya.
Akhirnya saya pun balik membisikan, “Tidak apa-apa, Tuhan pun tahu keadaan Bapak.”
Sesungguhnya yang hendak saya ucapkan, bahwa, โTuhan tidak membutuhkan uang-uang itu.โ
Sejauh ini, demikian isi refleksiku, mungkin saja Tuhan akan sangat kagum dan bangga akan ketulusan, kejujuran, serta kepolosan pria paro baya ini.
Amplop-amplop kosong di Kamis Putih di kota tahu itu, telah membawa sebuah pesan dan makna teramat dalam bagi wajah kehidupan yang riuh oleh aneka aksi kepalsuan serta serba hoaks ini.
Amplop-amplop kosong itu seakan mau mengabarkan, bahwa sungguh, betapa indahnya hidup kita, jika ternyata dapat bertindak jujur, tulus, sederhana, dan rendah hati.
“Wahai, amplop-amplop membisu nan kosong, berbicaralah pada kami tentang makna sebuah kerendahan hati sejati!”
Mungkin saja, di malam itu, Sang Guru Agung sekali lagi berujar,
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pria paro baya ini, telah memberi lebih banyak daripada yang lain!”
…
Kediri,ย 30ย Maretย 2024

