Kekuasaan itu selalu menarik dan menggoda. Dengan kekuasaan, seseorang bisa mengendalikan orang lain. Tidak mengherankan, jika banyak orang saling berebut kekuasaan dari tingkat yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Tidak mengherankan, jika para murid Yesus juga memiliki ambisi itu, ketika bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Jawaban Yesus cukup simbolis. la menempatkan seorang anak kecil di samping-Nya untuk menunjukkan kepada para murid, siapa yang sesungguhnya paling besar di dalam Kerajaan Surga.
“Apa yang dapat diajarkan dari seorang anak kecil tentang orang yang berambisi memiliki kekuasaan?”
Jelas sekali, anak-anak pada zaman dahulu, kecuali anak Raja, tidak memiliki hak, kedudukan, atau keistimewaan sendiri. Dalam lapisan masyarakat, mereka berada di anak tangga paling bawah, dan sama seperti seorang hamba. Mereka harus melayani orangtua mereka.
Apa arti dari perbuatan Yesus? Yesus mau menunjukkan, bahwa dalam Kerajaan Surga, yang lebih penting adalah, bagaimana orang harus melayani seperti anak melayani orangtuanya daripada sekadar menduduki jabatan. Kerajaan Surga itu berbeda dengan kerajaan duniawi. Orang yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah orang yang rendah hati, yang lebih fokus pada pelayanan daripada menuntut hak-haknya. Mereka yang terbesar dalam Kerajaan Surga rela mengosongkan diri mereka dari kesombongan dan ambisi memperoleh kekuasaan dengan mengambil posisi rendah sebagai hamba atau anak.
“Tuhan, mampukanlah kami bersikap rendah hati agar kami dapat menemukan sukacita yang sempurna di dalam Engkau, dan kami pancarkan sukaciia itu kepada orang-orang di sekitar kami. Amin.”
Ziarah Batin

