Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Hanya anjing-anjing yang doyan berebutan tulang belulang.”
Alkisah, sang Musafir berkata kepada sang murid, “Aku ini sudah menempuh perjalanan jauh untuk mendengar sang Guru, tetapi kurasa kata-katanya biasa-biasa saja.”
“Jangan mendengar kata-katanya, tapi dengarkan pesannya.”
“Bagaimana caranya?”
“Camkanlah sepotong kalimat yang dikatakan olehnya. Goncang-goncangkanlah itu sampai semua kata berjatuhan. Apa yang tersisa, itu yang akan mengobarkan hatimu.”
(Sejenak Bijak, Anthony de Mello, SJ)
Saudaraku, jika kita sungguh cermat dan cerdas, ternyata masyarakat kita ini, sudah sangat sering menguras energinya, hanya dengan sibuk meributkan hal-hal yang bersifat “kulit luar dan bukan sarinya.”
Apa saja, gampang dan serampangan kita spontan komentari. Apa saja, kita mudah omeli. Apa saja yang terjadi, juga segera kita ramaikan lewat aksi demo, misalnya. Aksi
tak berguna ini, ternyata turut melumpuhkan nurani tulus kita. Bahkan dapat membutakan mata hati kemanusiaan kita.
Saat tulisan ini diturunkan, bangsa besar ini, bangsa yang berkoar- koar tentang nilai luhur demokrasi serta kaya akan sikap toleransi ini, ternyata sedang berperang dingin soal kehadiran timnas sepak bola remaja usia 20 Israel di Jakarta pada 20 Mei 2023 mendatang.
Banyak argumen pun dilontarkan. Banyak kubu dan bahkan kubu pemerintah pun turut berupaya memberikan stateman. Semoga, semua kubu itu perlu bersikap bijaksana. Jika ternyata terus berlarut-larut hingga tiba saat perhelatan besar itu, maka hal ini akan berdampak buruk bagi bangsa kita.
Para bijaksanawan, mungkin heran serta kecewa akan kenyataan ini. Ada kubu yang berdalih akan tetap bersikap konsisten sesuai amanat isi UUD ’45. Tapi juga ada kubu yang berargumen, agar warga kita mampu memisahkan antara ranah olah raga dengan ranah politik dan agama.
Sesungguhnya, kita telah lancang meributkan sesuatu yang mungkin saja itu bukan ranah kita. Kita pun telah saling mencakar dan mencerca sesama dan bahkan dengan berani menyinggung soal perbedaan agama sesama kita.
Ternyata, ajang gonjang-ganjing ini, sungguh melelahkan kita sebagai warga dari sebuah bangsa.
Kita pun sering doyan untuk meributkan sesuatu yang sekadar kulit luarnya. Anehnya, ternyata kita justru takut untuk menyentuh esensi sentral dari inti persoalan-persoalan.
Ingat nasihat sang arifin, “goncang-goncangkanlah sampai semua kata berjatuhan. Apa yang tertinggal, itulah sarinya.”
Saudaraku, jangan-jangan, kita ini adalah warga bangsa yang selalu ‘telmik’ telat mikir. Kita tidak cerdas dan cenderung bersikap serampangan.
Kita perlu mengetahui dulu, bagaimana duduk persoalannya. Lalu, dengan kepala dingin, perlu pilah-memilah duduk persoalan. Selanjutnya, dengan cermat serta cerdas untuk menarik sebuah kesimpulan.
…
Kediri,ย 24ย Maretย 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

