“Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, yang hidup, ya Tuhan, dalam cahaya wajah-Mu.” (Mazm 89: 16)
Sabda Allah menghadapkan kami pada satu pertanyaan mendasar: “Siapakah yang sungguh kami izinkan untuk meraja dalam hidup kami?”
Bangsa Israel meminta seorang Raja seperti bangsa-bangsa lain. Mereka mengira sedang menolak Samuel, padahal sesungguhnya mereka menolak Allah sendiri sebagai Raja mereka. Mereka lebih memilih sesuatu yang kelihatan, dapat dikendalikan, dan terasa aman, daripada mempercayakan hidup pada pemerintahan-Nya yang setia, namun tak selalu tampak.
Allah yang setia. Ia mengizinkan pilihan mereka, bukan untuk meninggalkan, melainkan agar melalui pengalaman, mereka belajar kembali, bahwa tak satu pun kuasa manusia dapat menggantikan Allah yang menyelamatkan.
Mazmur hari ini meluruskan hati kami: Allah adalah kemuliaan kekuatan kami. Sumber sukacita, keamanan, dan kekuatan sejati bukanlah kuasa manusia, melainkan hidup dalam terang wajah-Nya.
Dalam Injil, kami melihat sikap yang berlawanan. Seorang lumpuh dibawa kepada Putra-Nya. Bukan dengan tuntutan, melainkan dengan iman. Keempat sahabatnya menolak menyerah pada hambatan. Mereka menembus keraguan, kelelahan, norma sosial, bahkan atap rumah, karena mereka yakin: Yesus layak diperjuangkan dengan segala cara.
Yesus melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mukjizat jasmani. Sebelum memulihkan tubuh orang lumpuh itu, Ia terlebih dahulu menyembuhkan jiwanya: “Dosamu sudah diampuni.”
Di sinilah kebenaran dinyatakan. Ahli-ahli Taurat terkejut dan sebenarnya mereka benar: hanya Allah yang berhak mengampuni dosa. Itulah yang hendak Allah nyatakan, ya Bapa. Yesus tidak menyangkalnya; Ia menggenapinya. Dengan mengampuni dosa dan menyembuhkan orang lumpuh itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Raja sejati: Tuhan yang berkuasa Ilahi, bukan dengan paksaan, melainkan dengan belas kasih.
Di sinilah perbandingan itu jadi jelas. Israel dulu meminta Raja yang menyerupai bangsa lain. Kini Allah memberikan kepada kami Raja yang mengampuni, memulihkan, dan meraja dari dalam hati. Iman adalah jawaban kami. Seperti orang lumpuh itu, kami mau membiarkan diri kami diangkat dan dibawa.
Seperti sahabat-sahabatnya, kami mau bertanggung jawab atas jiwa-jiwa yang Allah percayakan kepada kami: pasangan, anak-anak, orangtua, sahabat, rekan kerja. Iman bukan sekadar kekaguman, melainkan kerja sama yang berani dengan karya keselamatan-Nya.
Ya, Allah, bebaskan kami dari godaan memilih “raja-raja kecil”: kenyamanan, kendali diri, atau pengakuan manusia. Ajarlah kami mengadorasi Putra-Mu bukan hanya sebagai pembuat mukjizat, tapi sebagai Tuhan dan Allah kami. Tambahkan iman kami, agar melalui langkah-langkah kecil penuh kepercayaan, Engkau menghadirkan pemulihan besar; pertama-tama di hati kami, lalu melalui hidup kami bagi sesama.
Terpujilah Engkau, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Raja kami yang sejati dan kekal. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

