“Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11: 1).
Permintaan murid Yesus tidak terlalu aneh, tapi yang tidak biasa itu adalah tanggapan Yesus. Ia mengajarkan para murid supaya memanggil Allah sebagai Bapa mereka, bukan sebagai Tuhan Allah atau Pencipta atau Yang Maha Kuasa. Tentu saja semua itu tidak salah. Allah orang Yahudi dipahami sebagai Bapa bagi umat-Nya (Kel 4: 22), tapi jarang orang Yahudi yang menyebut Allah secara pribadi, intim, dan dekat.
Yesus memberi tahu para murid dan kita untuk mendekati Allah dalam doa dengan kepercayaan seorang anak yang dikasihi Bapa. Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa Bapa-Nya adalah Bapa kita yang selalu mengasihi dan menyambut kita. Dia selalu siap menerima kita sebagai anggota keluarga-Nya yang terkasih.
Kita dapat mengenali Bapa dari kisah ‘anak yang hilang’. Bapa tetap menerima dan mengasihi anak yang hilang itu (lih. Luk 15: 11-32), meskipun anak itu telah melawan kehendak bapanya.
Mari kita meluangkan waktu untuk membiarkan kebenaran ini meresap. Allah membuka pintu hati-Nya dan mengundang kita untuk ada dekat bersama-Nya, mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, dan mengalami kasih-Nya yang luar biasa.
…
Rm. Klimakus, CSE
Minggu, 27 Juli 2025
Kej 18: 20-33 Mzm 138: 1-3.6-8 Kol 2: 12-14; Luk 11: 1-13
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

