“Vita est brevis.”
Saat Alexander Agung berada di ambang kematian, ia memanggil para Jenderalnya dan menyampaikan tiga permintaan terakhirnya: “Pertama: hanya dokter-dokter terbaik yang boleh mengusung peti matiku. Kedua: tebarkan seluruh kekayaanku di sepanjang jalan menuju makam. Ketiga: biarkan kedua tanganku menggantung di luar peti tertiup angin agar semua orang bisa melihatnya.”
Sontak permintaan Alexander Agung ini membuat para Jenderalnya terkejut dan meminta penjelasan. Alexander berkata, “Aku ingin para dokter mengusung peti matiku untuk menunjukkan satu hal. Bahkan dokter terbaik di dunia tidak berdaya melawan kematian. Aku ingin kekayaanku ditaburkan di jalan agar semua orang tahu, bahwa harta yang dikumpulkan di dunia ini akan tetap tinggal di dunia. Sedang aku ingin tanganku terayun bebas tertiup angin, agar manusia mengerti satu kebenaran kita terlahir dengan tangan kosong dan kita pergi dengan tangan kosong pula.”
Tutur kata bijak ini benar adanya. Kematian akan selalu mendatangi kita yang hidup. ‘Memento mori’ – ingatlah, bahwa kita pasti akan mati. Apa yang kita cari dan kumpulkan di dunia ini tidak dibawa mati. Yang akan kita bawa adalah, hati yang suci dan mau berbagi, jiwa yang bahagia, roh yang menebar ketulusan dan kebaikan dalam iman.
Kita lahir telanjang, mati pun telanjang. Karena pada akhirnya hal paling berharga di dunia ini adalah waktu. Selama Tuhan masih memberi waktu untuk bernafas jadilah ikhlas; selama Tuhan masih memberi waktu untuk hidup, percayalah. Selama Tuhan masih memberi berkat dan rezeki berbagi dan berbuat baiklah. Jangan tunda dan sia-siakan hidup. ‘Vita est brevis’ – hidup itu singkat.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

