“Maaf! Jangan salah interpretasi. Saya jadi pemberontak itu tidak terpaksa, tapi sadar. Karena saya harus mengalahkan ego sendiri.” –Mas Redjo
Sejatinya saya tidak memusuhinya, tapi yang tepat dan benar adalah, mengalahkan dan mengendalikan si ego itu agar tidak menguasai dan memenjarakan saya dalam benteng kebahagiaan semu.
Saya tidak mau dicekoki dengan segudang kemudahan, karena bagi saya, hidup adalah perjuangan. Kemudahan dan kenyamanan itu hanya milik si pemalas!
“Gelem obah iso mamah.” Jika saya tidak mau bergerak, berusaha, dan berjuang, ya, maaf, dijamin hidup ini jadi sulit, menderita, dan sengsara!
Begitu pula saat saya disodori relasi dengan kemudahan untuk berbuat curang, baik untuk melancarkan dan menggoalkan suatu proyek itu demi keuntungan pribadi maupun kroni.
Saya menolak tegas, ketika ditawari dan diajak kongkalingkong. Bujukan ego itu tidak mempan. Karena saya mengikuti prosedur, dan berposes.
Saya sadar dan memahami. Suatu kesuksesan tanpa berproses, alias instan itu tidak tahan lama. Cepat memudar, bahkan berakhir dengan penyesalan dan kedukaan. Karma itu cepat datang untuk menghantar kita ke penjara. Aib itu tidak dapat dibersihkan dan dicuci, bahkan hingga ke ujung kematian!
Saya tidak mau menyeret nama Tuhan Yesus yang saya percayai dan imani. Juga tidak ingin hidup keluarga jadi menderita akibat perbuatan dan ulah saya.
Jika saya selalu memberontak melawan ego, karena saya ingin hidup jujur dan benar di hadirat Tuhan dan sesama. Dosa-dosa saya diampuni dan saya telah diselamatkan-Nya.
Mari kita sambut dengan meriah kedatangan Tuhan Yesus:
“Hosana Putra Daud! Alleluya!”
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

