Pagi ini saya terbangun jam 3.00 pagi. “Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Bapa Josef. Terima kasih telah Kau bangunkan aku dalam keadaan sehat.”
Di balik keterlibatan fisik yang nyaris ‘nol’ di masa Natal ini, satu kebisaan kecil yang masih terus kujaga adalah menulis secara sederhana, antara lain tentang perjuangan iman para sahabat yang tidak terlihat dan terlupakan dari hiruk-pikuknya persoalan hidup yang mengharu hati banyak sahabat.
Di saat hening seperti pagi ini, saya dapat dengan mudah merasakan “beban salib, tapi sekaligus ketangguhan iman mereka.” Mereka adalah saksi-saksi iman yang hidup, seperti dicontohkan oleh Santo Stefanus yang kemartirannya kita rayakan setiap tanggal 26 Desember.
Siapa pun yang berbeban berat dalam hidupnya, apa pun wujudnya, tapi tetap melangkah maju dan mendekap erat salibnya di dada, dialah saksi-saksi Natal, menjaga dengan teguh agar iman tetap bernyala.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23: 4).
Salam sehat berlimpah berkat.
Jlitheng

