“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin hidup menderita, semua orang ingin bahagia.” -Mas Redjo
…
“Karena tidak ingin hidup menderita adalah kilas balik kesadaran saya untuk bertumbuh dalam iman,” urai Romo SI dalam homilinya. Ia seperti dihanyutkan kembali ke masa lalunya.
Ketika itu ia naik ke kelas 4 SD, dan diharuskan pindah sekolah, karena Guru kewalahan mengurusnya. Ia sering membuat onar, berkelahi, dan tidak bisa dikendalikan lagi.
Bersyukur, ia diterima di sekolah swasta. Ternyata itulah awal titik balik hidupnya.
Di kelas barunya itu ia melihat patung orang yang bergantung di salib, dan tubuh-Nya penuh luka. Ia takut dan ngeri membayangkannya, jika mengalami nasib seperti orang itu.
Ternyata orang itu adalah Yesus yang rela korbankan diri untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat manusia.
Ia jadi ingat dengan pengorbanan kedua orangtuanya yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkannya. Ia seharusnya jadi panutan bagi adik-adiknya. Tapi faktanya ia telah mengecewakan harapan orangtua. Sehingga dikeluarkan dari sekolah.
Penyesalannya itu membuatnya sadar untuk berubah dan perbaiki diri.
Setamat es-em-a ia bekerja untuk membantu adik-adiknya agar dapat kuliah. Dengan mengalah dan berkorban untuk keluarga, ia merasa bahagia. Tapi ternyata panggilan hidup membiara itu makin kuat, sehingga ia ke luar dari pekerjaan untuk masuk ke Seminari.
Puji syukur kepada Tuhan, semua anggota keluarganya telah dibaptis. Bahkan adik bungsunya yang
perempuan itu mengikuti jejaknya untuk jadi biarawati.
…
Mas Redjo

