Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20: 19).
Game online dan akal imitasi (AI) mempengaruhi jiwa, seolah manusia mudah merasa kuat atau pintar, karena semuanya bisa diprediksi dan dikendalikan. Tapi, ketika layar ditutup, hidup nyata itu tetap harus diperjuangkan; yang sering kali membuat takut, ragu, dan luka. Yang nyata itu tak bisa kita program agar hilang begitu saja.
Para murid juga dikurung ketakutan. Pintu terkunci, hati gemetar. Namun, Yesus yang bangkit menembus belenggu itu dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.” Ia tidak datang menuntut jawaban; Ia hanya datang memberi damai.
Thomas yang sering kita salah pahami itu tidak mencari bukti, karena keras kepala, tapi memang hatinya terluka. Yesus tidak memarahi keraguannya. Ia justru berkata, “Taruhlah jarimu di sini.” Seperti yang Thomas inginkan. Yesus tidak ambil pusing pada keraguannya; sebaliknya, Ia menghampiri Thomas.
Di zaman serba digital, kita bisa menutupi takut dan ragu, tapi Yesus melihat ke dalam hati yang rapuh dan rentan; dan Ia datang seperti dulu: menembus pintu yang terkunci, menghadirkan damai, memeluk keraguan kita.
Rm. Brendan, CSE
Minggu, 12 April 2026
Kis 2: 42-47 Mzm 118: 2-4.13-15.22-24; 1Ptr 1: 3-9 Yoh 20: 19-31
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

