Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sang Guru Agung, katakan kepadaku, apa permasalahanku?”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Bukankah kepada orang yang selalu lalai, lupa dan ingkar akan janji, sering mengulangi kesalahan yang sama, suka memberontak, doyan mencari-cari kesalahan sesama, serta cenderung untuk meremehkan sesuatu; maka kepadanya pun dikatakan, sebagai “pribadi yang selalu tertidur pulas alias tidak sadar diri” dalam hidup ini.
Pribadi yang dicap sebagai tukang tidur ini memang ada dan bahkan berseliwerang di sekeliling meja perjamuan hidup kita.
Meminta Nasihat
Suatu hari, seorang pria dengan wajah sangat sedih datang kepada seorang Guru tua, karena kehadirannya selalu dikeluhkan oleh warga masyarakat.
“Tuan Guru, saya datang hendak meminta nasihat dan bimbinganmu,” demikian tuturnya.
“Apa permasalahanmu, orang muda,” seru sang Guru tua itu.
“Saya merasa sudah sangat tersingkir dan dijauhi oleh sesamaku. Tidak seorang pun yang sudi menerima keberadaanku,” keluhnya.
“Menurutmu (sambil menatap tajam pada bola matanya), apa faktor penyebabnya?”
“Maafkan saya Tuan Guru, saya sungguh-sungguh tidak tahu!”
“Sekarang juga, pergilah dan segera bercermin, dan temukan, apa yang kamu lihat di sana!”
Detelah kembali, dia melaporkan, bahwa dia tidak menemukan apa pun inti permasalahan dalam dirinya.
“Sekarang pergi dan segeralah untuk kedua kalinya kamu bercermin, tapi sambil kamu menutupkan matamu.”
Setelah kembali, dengan wajah kuyu seolah tidak bersemangat, maka dilaporkannya, bahwa kali ini dia tidak menemukan apa pun inti permasalahan di dalam dirinya.
Maka, kini, sambil menatap tajam, berkatalah sang Guru tua itu, “Nah, sungguh benar jawabanmu. Kamu, sungguh jujur. Mengapa kamu justru tidak menemukan apa pun inti permasalahan hidupmu; karena bukankah selama ini, kamu justru hidup dalam suasana ketidaksadaran diri. Kamu, pribadi yang tidak ambil pusing alias tidak peduli terhadap sesamamu. Itulah inti dari permasalahan mendasarmu, wahai anak muda!”
(Dari Berbagai Sumber)
“Aku pun Tidak Melihatnya” adalah sebuah judul yang penuh teka-teki hidup dan bernuansa rohani serta psikologis.
Domine ut Videam
Mencermati inti gagasan dan spirit dasar dari roh tulisan ini, saya teringat akan seruan maha menyayat dari seorang pengemis buta, Bartimeus yang berseru-seru kepada Yesus. “Tuhan, semoga saya dapat melihat” (Domine ut videam).
Mungkin saja, setiap saat pun di setiap waktu, kapan dan di mana pun, selalu ada orang yang berseru, agar dirinya dapat melihat, mengetahui, mengenal, serta mengerti sesuatu, bukan? Itulah sebuah obsesi yang sangat lumrah, bahkan sebagai kerinduan terdalam yang terdapat di dalam diri seorang anak manusia.
Terlepas dari konteks sebagai sebuah kerinduan yang terdalam untuk dapat melihat, namun di sisi lain, tentu ada faktor penyebab, mengapa sampai seorang manusia justru seolah-olah jadi buta dalam hidupnya?
Konteks pertama, kita berhadapan dengan kondisi sorang pria yang sadar, bahwa dirinya ditolak dan dijauhi. Namun di sisi yang lain, dia justru tidak mengetahui, apa faktor penyebabnya.
Dalam konteks yang kedua, kita berhadapan dengan seorang pria yang riil, bahwa sejak lahir dia memang sudah buta. Dia berteriak memohon, agar dirinya ditahirkan alias disembuhkan, agar dia dapat melihat. Riil pula, bahwa permohonannya itu dikabulkan. Dia, akhirnya dapat melihat.
Dua Konteks Berbeda
Di sini, dalam konteks ini, kita berhadapan dengan dua buah realitas yang berbeda. Mengapa? Istilah buta alias tidak dapat melihat itu sebagai sebuah realitas cacat fisik.
Sedangkan realitas yang kedua, pengertian buta dalam konteks secara ‘rohania psikologis’.
Maka, kedatangan seorang pria kepada seorang Guru tua, karena merasa ditolak oleh masyarakat, tergolong sebagai kebutaan dalam konteks rohani dan psikologis.
Kebutaan secara Rohani
“Aku pun Tidak Melihatnya,” adalah konteks kebutaan yang lebih bersifat psikologis dan rohani. Hal ini merupakan sebuah realitas yang sering kali justru tidak disadari, baik oleh si pribadi yang ditolak maupun oleh warga masyarakat. Padahal fenomena ini riil dan terjadi di dalam masyarakat kita.
Maka, hendaklah kita dalam hidup ini agar dapat saling peduli di dalam persekutuan sosial kemasyarakatan.
“Manusia adalah makhluk yang suka bersama (zoon politicon),” demikian filsuf Aristoteles.
…
Kediri, 28 Januari 2025

