Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku!
Siapakah, dari
manakah, dan hendak
ke manakah?”
(Filosofi Kesementaraan Hidup)
Urip Iku Mung Mampir Ngombe
Bukankah seluruh umat manusia di dunia, kapan dan di mana pun telah mengetahui, mempercayai, serta meyakini, bahwa seluruh proses kehidupan ini merupakan sebuah kesementaraan belaka. Di dalam budaya dan filosofi Jawa disebut, “urip iku mung mampir ngombe.” Bahwa kehidupan ini ibarat singgah hanya untuk minum. Itulah sebuah isyarat tentang sebuah kesementaraan.
Si Boneka Garam
Dikisahkan secara filosofis, bahwa makhluk manusia alias si homo viator mundi itu, telah beribu-ribu kilometer menjelajah dan mengembara di atas wadah bumi maya ini.
Ia, justru kebingungan merenungi nasib dirinya yang hanya tertatih terlunta-lunta ini. Dalam kesendirian dan keterasingannya itu ia sering bertanya, siapah sejatinya diriku? Dari dan hendak ke mana aku?
Suatu hari, ketika ia tiba di tepi pantai dan melihat birunya laut. Ia mendengarkan deburan bunyi ombak menghantam bibir pantai, dan ia bertanya, “Siapakah engkau?” Seketika laut menjawab, “Mari masuk dan segera menceburkan dirimu ke sini, dan engkau akan mengetahui siapakah aku.”
Lalu Boneka Garam itu segera masuk ke dalam laut. Ternyata kini, dirinya kian lama, justru kian mengecil, dan akhirnya segera menyatu dengan laut.
Seketika dengan spontan, ia berseru, “Ah, sekarang aku tahu, siapakah aku ini? Dari manakah aku, dan hendak ke manakah aku. Juga aku pun tahu, siapakah Engkau?”
(Dari berbagai Sumber)
Kini Kita mulai Mengetahui
Secara rohani dan filosofis, kini kita mengerti, bahwa sejatinya, siapakah manusia itu. Dalam konteks refleksi ini, kita manusia ternyata ibarat sebuah boneka garam yang senantiasa sibuk mempertanyakan jati dirinya dan mencari tahu, siapakah dan dari manakah sumber asal dirinya.
Kini sadarlah kita, bahwa bumi yang kini kita diami ini hanya bersifat sementara. Di sini bukan rumah abadi kita. Di sini hanya ibaratnya sebuah kedai kopi.
Rumah Keabadian
Kita sedang bersama berziarah lain menuju ke kediaman keabadian itu sesuai janji Tuhan.
“Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
(Yohanes 14: 1-2).
Sebuah Janji Dasyat
Jadi berbahagialah, karena kita akhirnya mengetahui, bahwa di sini, di bumi maya ini, hanyalah rumah kesementaraan, dan kelak kita akan sampai ke rumah keabadian.
In te Confido!
…
Kediri, 14 Maret 2025

