Halaman 20 dan 21 Buku Putih: Surat Kecil dari sudut kamar untuk Papa dan Mama tersayang, dan balasannya.
Mungkin Papa dan Mama kaget mendengar jawabanku kemarin. Saat ditanya ingin jadi apa, aku menjawab: “Aku ingin jadi sebuah ponsel.”
Maafkan aku, jika itu terdengar aneh. Namun, izinkan aku membisikkan alasannya dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Aku ingin jadi ponselmu agar aku selalu ada di genggamanmu, dekat dengan detak jantungmu. Aku rindu ingin disentuh dengan lembut setiap waktu, seperti Papa dan Mama yang selalu memastikan layar ponsel itu bersih dan tidak berdebu.
Aku ingin jadi ponselmu, agar saat aku bergetar atau memanggil, Papa dan Mama segera berlari menghampiriku. Takut, jika ada pesan penting yang terlewatkan. Aku ingin jadi hal pertama yang Papa cari saat terbangun, dan hal terakhir yang Mama tatap sebelum memejamkan mata.
Papa, Mama…
Kadang aku merasa cemburu pada benda kecil itu. Ia bisa membuat Papa tertawa sendirian, bisa membuat Mama betah duduk berjam-jam. Sementara aku sering kali hanya mendapatkan “… nanti ya, Sayang” atau tatapan yang terbagi antara mataku dan layar yang menyala itu.
Aku tidak butuh baterai untuk menyala, aku hanya butuh perhatianmu untuk merasa hidup. Aku tidak butuh koneksi internet untuk terhubung, aku hanya butuh pelukanmu untuk merasa aman.
Jadikanlah aku ‘pesan’ terpenting dalam hidupmu. Simpanlah aku di tempat paling utama di hatimu, melebihi aplikasi apa pun di tanganmu. Karena tidak seperti ponsel yang bisa diganti saat rusak, masa kecilku hanya datang sekali dan tak akan pernah bisa diunduh kembali.
Dari anakmu yang rindu tatapan matamu.
Jlitheng

