Karena dengan dan oleh salib-Nya, aku ditandai, aku membawa dan memanggulnya, dan aku dimenangkan, diselamatkan-Nya.
Ini bukan untuk menunjukkan aku hebat, tidak sama sekali. Ini bukan untuk menunjukkan aku mau pamer, tidak ada niat itu. Ini juga bukan untuk memperlihatkan aku berbeda dengan yang lain, tidak.
Aku mau memperlihatkan tentang pilihan, keputusan, dan panggilan yang berbeda. Aku mau menunjukkan, bahwa ada makna dari panggilan kemuridan. Hal ini menegaskan, bahwa panggilan kemuridan harus dijalani dengan taat dan setia. Sekaligus aku mau menggaris-bawahi, bahwa jadi murid Tuhan Yesus adalah hadiah yang unik.
Itulah sebabnya aku terus mensyukuri, menjalani, dan mendalami panggilan kemuridanku ini, supaya aku tidak ragu, goyah, takut, dan aku tidak melepaskannya.
Kepadaku telah diperkenalkan tentang Tuhan Yesus. Kepadaku telah didekatkan tentang Dia. Kepadaku telah diperlihatkan, betapa Dia yang selama ini aku cari dan telah menjawab kerinduanku. Jujur, sebenarnya aku sudah dimenangkan-Nya. Sesungguhnya, saat ini juga, dalam kebenaran-Nya, aku sungguh telah diselamatkan.
Aku melihat, bahwa panggilan kemuridan sebagai kesaksian untuk memberikan teladan ketaatan dan kesetiaan agar aku menghayati Hukum Kasih-Nya: cinta kepada Bapa dan sesama.
Sebab pada akhirnya, dengan cinta itu aku dihantar dan bertemu pada Sang Cinta Sejati. Sekarang sudah merasakannya, tapi kelak jadi sempurna dalam segalanya. Santo Paulus mengatakan, “bisa saling memandang muka dengan muka.” Tidak ada yang membatasi perjumpaan cinta itu.
Banyak orang, siapa pun, kapan, dan di mana pun bisa mengenakan salib, tapi tidak semua orang sanggup memanggulnya, apalagi harus setiap hari.
Taat dan setia kepada Tuhan, karena kita sudah diselamatkan-Nya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

