“Berbesar hati untuk menerima kenyataan pahit, karena aku bukan pemberontak.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Bagiku berkomentar itu tanda tidak mampu. Nyinyir itu tanda iri hati dan dengki. Mengeluh itu menunjukkan kelemahan sendiri.
Ketimbang membalas komentar, nyinyir, dan mengeluh, lebih baik aku merespon dalam diam untuk berpikir jernih dan memahami persoalan atau masalah itu dengan rendah hati dan bijaksana.
Aku sadar dan memahami, bahwa perang adalah kekalahan. Tapi saling mengasihi itu kemenangan bersama, dan membahagiakan.
Karena bukan pemberontak, aku diam dan tidak mau menanggapi nyinyiran orang. Tidak ada guna, cemen, dan kekanak-kanakan. Tapi diam itu berkualitas.
Dijelek-jelekkan dan dikomentari orang itu tidak perlu ditanggapi, karena membuang-buang waktu, energi, dan kita capai sendiri.
Begitu pula, saat difitnah orang dalam persaingan bisnis, aku tidak menanggapi, membela diri, atau mencari kesalahan orang lain. Kebenaran itu tidak membutuhkan pembelaan, karena Sang Kebenaran yang akan membelanya.
Alangkah bijak dan baik, jika aku mendoakan mereka yang senang nyinyir, iri, dengki, atau memfitnah itu. Karena mereka tidak tahu yang diperbuatnya.
Kita diam tidak berarti lemah, kalah, dan tidak berdaya. Sejatinya kita tengah diuji untuk jadi sabar, tabah, dan rendah hati.
Dalam kerendahan hati itu kita mengalahkan ego sendiri dan iman kita makin dewasa.
“Dalam segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4: 13).
…
Mas Redjo

