“Tidak ada orangtua di dunia ini yang ingin menjerumuskan, apalagi mencelakakan anak-anaknya. Tapi anak yang melawan orangtuanya itu yang terjerumus ke dalam jurang penyesalanya sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Maaf, jika tidak sependapat dengan orangtua, sebagai anak, kita tidak harus marah. Apalagi membentak orangtua. Hal itu sungguh tidak elok dan melukai hati mereka. Jika tidak sependapat dalam suatu hal, lebih bijak itu dicari titik temunya demi kebaikan bersama.
Beruntung, saya lahir di tengah keluarga yang miliki toleransi tinggi dan pengertian, khususnya dalam memilih agama yang diimani itu kami diberi kebebasan. Mereka juga tidak otoriter, karena selalu mengedepankan musyawarah dan mufakat. Kami, anak-anaknya biasa diajak bertukar pikiran agar saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain.
Karena itu saya tidak mempunyai jiwa pemberontak, tapi penurut! Kebiasaan bersikap terbuka dan jujur itu mengajar kami untuk berani menyampaikan pendapat dengan sopan dan kritis, tapi tanpa menyinggung perasaan.
Begitu pula saat Ibu mengingatkan Mas kedua. Ketika hendak makan bersama itu pacarnya datang untuk yang pertama kali ke rumah dengan pamer pusar. Hal yang tidak pada tempatnya dan tidak menghargai orangtua. Bukan karena Ibu kuno dan ketinggalan zaman. Melainkan agar pacar Mas bisa menempatkan dan membawa diri, serta memberi kesan baik.
Saya bukan berjiwa pemberontak, melainkan pribadi yang menurut orangtua itu datang dari kesadaran sendiri. Saya membayangkan, kelak saya juga bakal jadi orangtua. Dibentak anak, bahkan dimarahi itu sangat menyakitkan. Saya ingat pengorbanan orangtua, khususnya Ibu yang mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anak dengan kasih. Meski anak nakal dan suka emosi, tapi Ibu selalu memaafkah, mengasihi, dan murah hati.
Saya melihat banyak realita pahit di sekitar. Anak yang hidup menderita, karena melawan orangtua, minggat dari rumah, atau menelantarkan orangtuanya hingga akhirnya mati ngenes. Anak pun hidup dalam penyesalan, tapi terlambat dan tiada guna.
Saya sangat bersyukur diingatkan dengan contoh yang miris itu. Saya
tidak mau hal itu terjadi pada saya, sehingga timbul penyesalan yang sulit diobati.
Karena itu saya belajar dan terus belajar untuk mendidik sikap dan perilaku agar tidak menyinggung dan melukai hati orangtua. Saya sangat menyayangi dan mengasihi mereka.
“Anak-anak, taatilah orangtuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan” (Kolose 3:20)
Saya berdoa mohon berkat Tuhan, semoga saya mampu menghidupi perintah-Nya yang kelima itu, dan membahagiakan orangtua.
…
Mas Redjo

