Oleh Fr. M. Christoforus, BHK
“Tutup mulutmu,
tahu kamu, mulutmu itu harimaumu.”
Demikian, sebuah seruan kemarahan, yang biasa dilontarkan seorang kepada orang yang selalu terus mengoceh.
“Aksi tutup mulut” silent action expression.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara tidak jarang kita mendengar ada ‘aksi tutup mulut’ dari sekelompok orang, atau individu, atau bahkan tokoh ternama.
Mengapa, dan atas nama siapa, serta untuk tujuan apa, aksi tutup mulut itu diaksikan?
Aksi tutup mulut adalah suatu aksi atau gerakan diam atau tidak mau bicara, sebagai sebentuk protes dengan cara bahkan rela “menjahit bibir sendiri.”
Aksi eksklusif model ini, biasanya digerakkan sebagai sebentuk atau suatu cara melawan suatu kebijakan, baik negara, kelompok sosial, lembaga pendidikan, atau sebuah organisasi.
Kebijaksanaan telah mengajarkan, bahwa dengan dan lewat aksi diam seribu bahasa, sebetulnya saat itu, orang justru sedang berbicara serta menuntut dengan lantang demi penyelesaian suatu permasalahan.
Aksi tutup mulut hanyalah suatu cara. Aksi protes dapat diekspresikan dengan aneka cara. Bahkan, ada orang yang berani memprotes lewat aksi bom bunuh diri, atau aksi bakar diri, atau bahkan aksi meminum racun maut.
Saudaraku, jika sudah ada orang yang berani menempuh aksi model ini, biasanya karena orang beranggapan, bahwa inilah cara paling akhir yang terpaksa kami aksikan karena tuntutan kami sungguh mendasar.
Manusia adalah makhluk sosial dengan modal utama kebebasan untuk berekspresi. Itulah sebentuk hak hidup berdemokrasi di dunia modern yang kian mengglobal ini.
Suara rakyat itu adalah suara Tuhan (vox populi vox dei), dan bahkan suara rakyat adalah hukum tertinggi (vox populi, suprema lex), adalah prinsip hukum kehidupan yang dikaitkan dengan kebenaran atas nama Tuhan.
Mengapa sampai ada orang atau sekelompok orang, nekad sampai berani ‘menjahit bibir?’ Hal ini diaksikan, justru karena ada prinsip yang sangat mendasar, yang menjadi modal paling mendasar atau esensi dari aksi tuntutan mereka.
Aksi konyol ini dapat terjadi, biasanya karena terkesan ada keran-keran berdemokrasi yang sengaja ditutup atas nama suatu kebijakan. Maka, yang terjadi di sini adalah sebentuk perlawanan atas suatu kebijakan yang dianggap semena-mena.
Ada sebuah ironi, “bodoh amat, mengapa sampai harus menjahit mulut segala.”
Apa dan bagaimana sebaiknya bertindak, menurut Anda?
…
Kediri,ย 22ย Meiย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

