“Mendidik diri sendiri untuk peduli dengan aksi nyata pada sesama, karena urip kuwi urup.” -Mas Redjo
Tidak hanya salut dan respek, tapi saya bangga-sebangganya dengan aksi nyata kepedulian teman-teman alumi SMP. Tanpa dikomando, mereka cepat tanggap membantu rekan yang kesusahan, sakit, mengunjungi mantan Guru, dan bahkan berziarah kubur bagi rekan yang telah wafat.
“Karena kami satu almamater,” kata YS, penggagas gerakan kepedulian itu. Tapi yang membuat saya salut-sesalutnya pada YS adalah, karena ia pernah hidup terpuruk. Sehingga ia merasakan kesedihan dan kesusahan yang dialami teman-temannya itu.
Mengunjungi para Guru yang masih sehat, karena mereka telah berjasa dalam membimbing dan mengajar, sehingga murid-muridnya jadi pandai dan mandiri.
Sedang pergi nyekar ke makam teman, karena mereka itu teman seperjuangan. Dengan berkirim doa itu senjatinya mereka mendoakan diri sendiri juga.
Semangat kepedulian dengan aksi nyata itu juga saya lihat pada pribadi anak muda, SE yang jadi ketua Lingkungan di tempat saya tinggal.
Dalam kegiatan sembayangan, SE lewat grup WA atau pertemuan itu selalu mengajak manula yang ingin terlibat dalam doa. Caranya adalah dengan antar jemput manula itu. SE dan pengurus Lingkungan itu yang siap antar jemput. Tujuannya agar para manula itu tidak berkecil hati, ditinggalkan, dan atau dilupakan. Apalagi ada manula yang tinggal sendirian, karena anak-anaknya kos dan sibuk bekerja di luar kota. Sehingga jarang pulang dan hampir tidak pernah mengunjungi orangtuanya.
Dari semangat kepedulian dengan aksi nyata yang dilakukan mereka itu, saya belajar makna kasih sejati. Dengan menghadirkan kasih Tuhan pada sesama, sesungguhnya kita mengasihi diri sendiri.
Lewat pelayanan kasih yang tulus ikhlas pada sesama, kita merasakan karunia kasih Tuhan yang luar biasa.
Mas Redjo

