Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Langkah banyak orang telah terhenti, karena mereka takut salah.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Ternyata di bumi ini, tidak sedikit manusia, yang akhirnya terhenti langkah serta keinginannya untuk maju dan berjuang, justru karena mereka takut salah.
Dalam konteks ini, orang takut untuk berbuat sesuatu, entah itu belajar secara formal di sekolah dan kampus, atau belajar di tempat pembinaan pengembangan bakat minat, lembaga kursus, atau pun di bidang olahraga, justru karena takut salah.
Ternyata, perasaan takut salah ini, sungguh telah menghantui benak seorang manusia. Rasa takut salah itu, sudah menjadi mimpi paling buruk di dalam membangun hidupnya. Apakah sikap merasa takut salah itu, suatu yang wajar? Sekalipun, orang takut berbuat salah itu, memang suatu perasaan yang wajar. Tetapi, jika orang merasa takut bersalah secara sangat berlebihan, nah, itu adalah suatu kondisi psikologis di luar kewajaran. Orang, si penakut itu, sudah dirasuki dan dihantui pikiran serba negatif tentang potensi dirinya.
Perasaan takut bersalah secara berlebihan itu, dapat merupakan sejenis penyakit kronis yang sungguh menghantui. Hal ini, sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah fenomena psikologis yang mengarah ke sifat minder secara berlebihan.
Bagaimana seorang manusia dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal, jika dirinya senantiasa dihantui perasaan minder?
Dosa terbesar dalam konteks ini, justru karena orang itu, tidak mau lagi belajar demi mengembangkan kepribadian dan jati dirinya.
Hal ini, erat berkaitan dengan ketidakrelaan hatinya untuk terus mau belajar demi mengembangkan potensi dirinya.
Proses Pengembangan SDM, justru berkaitan erat dengan energi serta potensi diri sang manusia. Bagaimana dia bisa mengembangkan diri di dalam bidang bertinju, misalnya, jika dia takut dipukul dan juga takut kalah?
Bagaimana seorang manusia muda bisa menjadi sarjana, jika dia sudah dihantui dengan momok DO (drop out), karena sudah merasa tidak sanggup belajar dan juga menulis skripsi, tesis, dan disertasi, sebelum dia mulai berlangkah?
Menurut pengalaman banyak orang, bahwa hantu-hantu ketakutan itu, bisa berawal dari mendengar kisah kegagalan orang lain. Atau juga, kerena memang orang itu pernah mengalami sebelumnya. Dia, berlarut di dalam perasaan gagal, dan tidak sudi untuk mencoba lagi.
Orang yang sungguh takut berlaga sebelum berlangkah, dikatakan ‘kalah sebelum berperang.’ Atau juga, dicap sebagai pribadi ‘bermental kertas’ atau ‘bernyali kerupuk.’
Ironi tua, “Layu sebelum mekar,” adalah pendeskripsian suatu kondisi batin yang perlu diratapi, jika ternyata orang muda itu sesungguhnya sangat berpotensi.
Perasaan takut salah itu, telah membunuhnya.
Perasaan takut serta minder berlebihan itu, bagai sang pembunuh berdarah dingin bagi banyak orang. Juga, ternyata, tidak sedikit pula orang yang sudah menjadi korban keganasannya.
Mari saudara, kita berani mengubah paradigma serta mentalitas lama dengan bersikap lebih rasional, agar kita mampu memerangi perasaan takut salah ini.
“Pikiran serta perasaan takut secara berlebihan, adalah seekor burung hantu malam bagi pengembangan potensi diri Anda.”
“Saya pun sungguh yakin, Anda seharusnya sanggup menggapai pulau impian itu!”
…
Kediri,ย 6ย Meiย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

