Refleksi pagi ini tentang akhir zaman. Pointnya: tidak seorang pun tahu, hanya Tuhan yang tahu, kapan dan bagaimana!
Menjelang pergantian tahun biasanya akan muncul banyak peramal di tv, apa yang akan terjadi ditahun 2025 nanti. Jawaban bisa serem, bisa tidak masuk akal.
Kalau saya ditanya, bukan sebagai peramal, tapi sebagai orang beriman, “Apa yang akan terjadi dengan masa depan kita?” Jawaban saya: “ngunduh wohing pakarti.“
Setiap pagi, 05.45, saya hampir pasti berpapasan dengan seorang Ibu, bersepeda lewat di depan rumah, usia sekira 62 tahun, dari iman yang berbeda. Dengan seruan penuh harapan tanpa lelah… “Tiwul, gethuk, cenil,…” Ajek tiap pagi demi sesuap nasi, entah untuk dirinya sendiri atau ada anggota keluarga yang lainnya.
Ada sosok perempuan lain yang tangguh, seiman, sekitar 66 tahun usianya, berjalan pakai tongkat, karena satu kakinya tidak bisa ikut mendukung tubuhnya. Tiap pagi mencukupi dan menghidupi diri dengan jualan mainan anak-anak. Lapaknya di-èmpèr sekolah. Mencari rezeki untuk dirinya dan satu anaknya yang berkebutuhan khusus. “Never give up.”Istimewanya, Ibu ini sangat aktif dalam doa bersama kendati kurang daya, … ngojèk… demi kebersamaan.
Kedua yang saya ceritakan ini adalah dua dari banyak orang yang tidak takut pada akhir zaman. Entah, karena imannya yang kuat atau oleh waktu yang tidak banyak mereka miliki untuk memikirkannya. Boro-boro mikir itu, demi nasi esok hari pun masih belum pasti. Namun mereka gagah menjalani hari-harinya.
Demikianlah mereka itu, dengan cara yang berbeda, melakoni hidup ini menuju akhir zaman. Mereka susah dan sèkèng, namun tidak cèngèng. Memakai istilah Romo Mangun: “Mereka itu melarat akan tetapi tetap ningrat jiwa raganya.”
Bagaimana dengan kita? Iman saya tidak sekuat mereka. Kepasrahan mereka sungguh hidup, dan yakin, bahwa “manusia pasti dipelihara Tuhan lebih baik dari burung pipit.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

