Oleh: Peter Suriadi
Etan, sebuah kota kecil di Provinsi Chiclayo, Peru utara terkenal, karena di sana telah terjadi dua kali mukjizat Ekaristi, pada tanggal 2 Juni dan 22 Juli 1649. Pada tanggal tersebut, wajah bayi Yesus dikatakan telah muncul pada hosti yang dikonsekrasi selama perayaan keagamaan besar.
Meskipun Gereja Katolik belum secara resmi mengakui mukjizat tersebut, terpilihnya mantan Uskup Keuskupan Agung Chiclayo sebagai Paus Leo XIV telah memberikan harapan baru bagi penduduk setempat. Banyak yang melihatnya sebagai orang yang ditunjuk Allah untuk pada akhirnya mengesahkan mukjizat yang telah berusia lebih dari tiga abad ini.
Mukjizat dimulai pada tanggal 2 Juni 1649, selama perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, di sebuah kota kecil yang didirikan oleh orang Spanyol. Ketika Imam sedang bersiap untuk mengganti monstrans setelah pemberkatan Sakramen Maha Kudus, umat melihat wajah bayi Yesus yang berseri-seri dengan rambut ikal berwarna coklat muncul di hosti yang telah dikonsekrasi.
Mukjizat tersebut terjadi lagi pada tanggal 22 Juli tahun yang sama, pada Pesta Santa Maria Magdalena, santa pelindung kota kecil itu. Sekali lagi, wajah bayi Yesus muncul, mengenakan jubuh ungu, pakaian tradisional yang dikenakan oleh penduduk Eten. Penampakan ini meninggalkan kesan abadi dalam ingatan bersama.
Carlo Acutis mencantumkan mukjizat ini di situs webnya tentang mukjizat Ekaristi. Kita masih dapat mengunjunginya, bahkan dalam terjemahan bahasa Inggris (https://www.miracolieucaristici.org/en/peru/peru.html?wh=eten)!
Bahkan hingga kini, devosi lokal yang lahir dari peristiwa-peristiwa ini terus berlanjut, dengan prosesi dan ziarah. Para devosan terus berbondong-bondong mendatangi lokasi-lokasi yang diduga sebagai lokasi mukjizat tersebut. “Setiap pekan, ada orang baru yang bersaksi telah menerima rahmat khusus,” kata Eduardo Zarpan, 26 tahun, yang bekerja sebagai pemandu di lokasi tersebut, kepada AFP.
Paus Leo XIV, mantan Uskup Keuskupan Agung Chiclayo, sangat mengenal tempat itu. Tempat itu merupakan bagian tak terpisahkan dari keuskupannya, dan ia sangat menyayanginya. Sebagai buktinya, pada tahun 2019, ia memutuskan untuk mengambil langkah agar mukjizat tersebut diakui oleh Gereja dan membangun sebuah tempat suci untuk mengenangnya.
“Mukjizat Ekaristi adalah rahmat bagi seluruh Peru. Pembangunan tempat suci baru ini adalah tugas yang harus kita semua lakukan. Ini adalah mimpi yang ingin kita wujudkan,” katanya pada tahun 2022.
“Pastor Leo XIV akan memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap pengakuan resmi atas mukjizat ini. Kami berharap banyak darinya,” kata seorang guru purna bakti berusia 72 tahun. “Ini juga akan membawa kebanggaan besar bagi umat dan pengakuan atas iman mereka,” tambahnya, saat berbicara kepada AFP.
“Ia tidak akan menunda kedatangannya … Jika Allah berkenan, saya akan hidup untuk melihatnya sebagai Paus,” harap seorang pria tua, mantan pembuat topi jerami, kerajinan khas kota kecil tersebut. Ada antisipasi besar di antara warga Peru, yang bagi mereka pengakuan ini akan memperbarui devosi yang telah berakar dalam selama tiga abad dan jadi saksi kehadiran Yesus yang hidup dalam Ekaristi.
Bapak Peter Suriadi

