Kepada ke empat mahasiswa yang terlambat dan juga kepada teman-teman kelasnya, saya mengulang kembali apa yang pernah saya jelaskan di kelas:
“Pikiran kita ini ibaratnya air. Air yang harus terus dijaga kebersihannya. Selain dengn menjaga filter dan menyaring semua kotoran yang masuk, air yang bersih itu harus diwadahi dalam tempayan yang bersih pula. Tempayan itu adalah hati dan perilaku kita.”
Kemudian saya lanjutkan: “Jika tidak, maka akan terulang pepatah yang berbunyi: ‘Garbage in garbage out’. Kalau yang masuk dalam pikiran kita ini sampah, hal-hal yang tidak lurus, maka yang ke luar dari mulut dan perilaku kita adalah hal-hal yang tak berguna.
Karena itu kita butuh peduli satu sama lain, seperti yang dilakukan ketua kelas pagi ini, dan keterbukaan dari empat teman yang tadi ada masalah. Itulah arti pertemanan sejati, tidak membiarkan temannya masuk dalam percobaan. “Libera nos amalo.” Bebaskanlah pikiran kami dari hal-hal yang tidak benar.
Salam sehat.
…
Jlitheng

