Setelah tugas akhir, 37 buku, selesai saya periksa, saya lanjut dengan koreksi ujian akhir, 200 mahasiswa lebih. Di tengah jalan, saya terhenti pada satu tulisan seorang mahasiswi di akhir kertas kerjanya: “Semoga kinerjaku membuat Bapak bahagia. Bapakku cepat sembuh, ya.”
Di akhir tahun, ditumpukan tugas-tugas yang belum usai, rupanya Tuhan menepuk pundakku lewat tulisan mahasiswi itu.
Ingat cerita homili pagi tadi: “Seorang musafir (homeless) yang sudah tahunan tidak lagi pergi ke Gereja, entah mengapa pagi itu ingin sekali masuk dan, karena pakaiannya lusuh, ia duduk di sudut belakang. Selama misa sepertinya dia tertidur dan terbangun oleh suara merdu anak-anak di penutup misa ysng dibagian akhir syair berbunyi: “O, Maria Bintang Laut, lindungilah para musyafir.”
Tiba- tiba musyafir itu tersedu tidak henti. Ketika ditanya oleh seorang Ibu yang menghampirinya, jawabnya, “Tuhan yang sudah lama kulupakan, ternyata tetap mengingatku.”
Ya, dengan cara yang berbeda Tuhan akan mengatakan… “Aku tidak pernah melupakanmu” kepada kita semua, apa pun masalah kita.
Semoga, di tengah aneka persoalan dan kesibukan kita sepanjang tahun ini, kita tetap bisa merasakan tepukan damai di pundak kita, oleh Tuhan.
Salam sehat dan menanti detik-detik kehadiran Sang Damai.
Jlitheng

