“Ah, Teori…!” Kata yang tidak asing bagi telinga kita. Mungkin kita atau teman yang melontarkannya.
Bagaimana reaksi kita, ketika tengah serius berbincang, seorang teman melontarkan kata itu? Apakah kita lantas responsif, tersinggung, atau marah?!
Eit, tunggu dulu! Jangan sensian, ah. Pandang wajahnya, cermati intonasi kata-katanya, gestur gerak tubuhnya. Apakah ia meremehkan, mengejek, atau hanya sekadar bercanda.
Kendalikan Diri
Langkah yang utama adalah kita belajar untuk mengendalikan diri. Tidak perlu responsif, kendati nada kata dan sikapnya meremehkan. Caranya: tarik nafas, senyum, atau kita yang ganti bercandain dia. Kenapa? Supaya suasana cair. Tanpa cibiran, santai, dan tanpa emosi.
Seorang Guru Bijak mengatakan, bahwa emosi itu ibarat ‘kuda liar’, apabila lepas kendali. Akibatnya: bisa meledak jadi emosi, benci, dendam, bahkan permusuhan. Apa manfaat yang diperoleh dari sikap m emosion itu? Tidak ada. Emosian itu jelas merugikan, karena tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya membuat masalah bertambah runyam.
Alangkah elok sekiranya kata “Ah, teori” itu ditanggapi dengan tenang, rendah hati, dan sabar.
“Maklum. Saya baru berteori dan belajar mempraktekkannya. Tolong kalau salah, ya, dibetulkan.”
Emosi itu dapat diatasi dengan sikap mengalah. Kita belajar untuk mengalah, dan memahami dengan ikhlas. Dengan tarikan nafas kita mampu mengendalikan emosi yang hendak meletup. Tidak mudah memang, sekiranya kita malas dan tidak mau mengulang-ulang untuk mempraktekannya. Sebaliknya dengan berlatih secara kontinyu itu berdampak maksimal, sehingga kita mampu mengendalikan emosi.
Bagaimana, bila teman tetap tidak mempercayai kata-kata kita dan dianggap sekadar berteori?
Ya, kita tidak perlu marah atau ngotot agar orang itu mempercayai.
Kita tidak perlu berkilah, mencari data pendukung atau dalil. Toh, seseorang mau percaya atau tidak, mau menghargai pendapat orang lain atau tidak, itu hak dia. Pribadi yang picik dan berwawasan sempit, itu sulit untuk menerima saran atau alasan dari orang lain, karena merasa lebih hebat dan benar sendiri. Tugas kita hanya sekadar menyampaikan pandangan, pendapat, gagasan, atau argumen.
Teori Untuk Realisasi
Sekiranya teman berkomentar, “Ah, teori….” Lalu dia memancing emosi, meremehkan, bahkan mengusik nurani kita. Sekali lagi, kita tidak perlu tersinggung atau menanggapi. Karena kita mempunyai kendali yang terlatih, sehingga tidak mudah terpancing emosi. Rendah hati itu panjang sabar.
Berteori?! Ya, kita semua tidak bisa terlepas dari berteori? Bagaimana tidak?! Coba pikir, apa yang kita dapat di bangku sekolah, dari TK hingga perguruan tinggi? Teori. Hanya, teori. Lalu, apakah sekolah itu mesti ditutup, karena sekadar mengajar teori? Kenapa kita mesti apriori terhadap teori. Apa karena hidup keseharian kita bertolak belakang dengan fakta? Barangkali kita lupa, praktek yang sesungguhnya itu kita peroleh dari hidup keseharian yang real.
Faktor penting lain yang kita peroleh dari kata, “Ah, teori …” Kesannya adalah menyepelekan; meremehkan. Namun kita tidak boleh berkecil hati. Kata itu dapat digunakan untuk memotivasi kita dalam bekerja agar lebih tertantang dan semangat. Kita dituntut untuk berkarya nyata. Tidak sebaliknya, kata itu melemahkan mental kita, bahwa berteori itu tidak penting tanpa aplikasi. Seolah-olah teori itu tidak baik tanpa praktek.
Nah, apakah kita mau belajar dari peristiwa kebetulan dan tidak disengaja, seperti Hukum Archimedes yang lalu dibuat teori. Bukankah teori dan kebetulan itu saudara kembar… sesuai rencana dan ketetapan Allah?!
Berteori? Ah, biarlah. Dengan teori kita merajut mimpi untuk direalisasikan jadi nyata.
Indah rencana-Nya!
Mas Redjo

