“Mata, telinga, dan kulit itu penipu ulung.” -Parmenides
Saat membuat tulisan ini, tidak sengaja pena jatuh dalam gelas berisi air putih. Terlihat oleh mata, pena itu kelihatan bengkok. Nyatanya penanya tetap lurus, begitu logika berbicara.
Ribuan tahun lalu Parmenides menggunakan prinsip sesederhana ini untuk membongkar sebuah kebohongan masal. Ia adalah pemikir pertama dalam sejarah yang berani menyatakan dengan tegas, bahwa “mata, telinga, dan kulit adalah pembohong besar.” Panca indra kita menurut Parmenides cacat dan sering kali memanipulasi kenyataan. Satu-satunya alat yang bisa dipercaya untuk menemukan kebenaran hanyalah logika murni di dalam kepala.
Pesan sederhana untuk kita saat ini adalah, apa yang terlihat begitu nyata dan sempurna di depan mata, entah itu pamer kemewahan di media sosial atau sekedar janji manis di dunia nyata, belum tentu itu adalah kebenaran sejati. Apa yang tampak wah dalam dunia maya itu tidak seindah realita. Saat mudik terlihat kaya raya, nyatanya sengsara di tanah rantau.
Mata boleh tertipu, telinga boleh terbuai oleh cerita, hati boleh berdecak kagum, tapi logika tetap terbuka. Jadi sebelum kita merasa ‘insecure’, seolah kita kecil di dunia maya atau nyata, tetaplah menggunakan logika. Fokus pada diri yang mau berusaha dan berjuang itulah yang akan membungkam kepalsuan kesuksesan. Tetap rendah hati dan percaya pada Tuhan itulah yang akan meruntuhkan kesombongan. Tetap bersyukur dan berbagi itulah yang akan melipatgandakan rezeki.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

