“It’s not the strongest of the species the survives, nor the most intelligent, but its the one who’s the most adaptable to change.” – Darwin
Pernyataan ilmuwan Darwin ini tepat bagi situasi pandemi atau sulit. Sesungguhnya bukan mereka yang kuat, juga mereka yang genius itu bisa bertahan, tapi mereka yang cepat beradaptasi yang bertahan hidup.
Jalan kesucian ini mengajari kita tiga hal:
Pertama: ‘Ability to adjust’. Situasi dan keadaan baru jelas membuat tidak nyaman. Pilihan pertama yang sering dibuat adalah menolak, menyalahkan, dan mencari kelemahan. Semua itu manusiawi. Faktanya tidak mudah untuk menerima dan beradaptasi pada keadaan baru. Tapi ingat pesan Darwin, siapa yang cepat beradaptasi dengan perubahan itulah pemenangnya. Manusia sudah mempunyai ribuan bekal untuk beradaptasi. Tinggal mengembangkan. Tidak nyaman memang, tapi itu tandanya kita bertumbuh.
Kedua: ‘focus on the controllable’. Dalam hidup ini ada yang bisa kita ubah dan kendalikan, tapi ada yang tidak bisa diubah dan dikendalikan. Contoh arah angin, kita tidak bisa mengubah, tapi kita diberi anugerah akal budi untuk bisa mengatur dan merubah arah layar kapal, sehingga kita tetap selamat sampai tujuan, walaupun badai menerjang, kesulitan datang.
Jadi yang tidak bisa diubah dan dikendalikan kita relakan. Sedang yang bisa dikendalikan, kita mencari cara untuk memperbaiki keadaan.
Pada bagian ini kita diajari dua hal: ‘Learn to become flexible’. Belajar untuk fleksibel dalam hidup. Hal ini tidak berarti tanpa pendirian, tapi fleksibel berhadapan dengan situasi dan keadaan.
‘Find new solutions to move’. Secara kreatif mencari dan menemukan cara baru. Tidak mudah memang, tapi hal itu jelas beresiko. Cara dan jalan baru itu yang akan membuat kita berkembang dan cepat beradaptasi. Bantuan itu selalu ada bagi orang yang berusaha. Selalu ada cara dan jalan terbuka bagi yang mau terus bergerak. Jadilah pelajar seumur hidup, dan jangan pernah berhenti belajar.
Ketiga: ‘Semper fidelis. Always fithful!’ Selalu setia. Selalu gelisah. Hal ini sering dilupakan dalam proses beradaptasi. Ingat, ‘faith can move mountains’. Iman itu dapat memindahkam gunung. Iman itu membuka pintu mujizat, berkat, rejeki, dan pintu-pintu lain hidup kita yang terkunci. Dalam perubahan ini tetaplah teguh beriman, kuat dalam iman!
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

