Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ada selembar potret yang paling menyayat hati, terpampang sendu di sehelai koran kota di tengah abad XXI ini”
(Didaktika Hidup Duka)
Aneka Potret dari Dunia Kita
Dunia kita tentu memiliki berjuta lembar potret tentang dinamika dan realitas kehidupan ini. Bahkan setiap hari dunia kita telah menghasilkan jutaan lembar potret baru tentang suka duka kehidupan dengan aneka latar belakangnya.
Ada potret yang berlatar belakang tragedi hidup, bernuansa komedi, dan juga ada potret yang berwajah antara tragedi dan komedi hidup yang lengkap dengan sejuta keunikannya. Itulah potret tentang kita di hari-hari ini.
Ada Selembar Potret Duka
Inilah selembar potret duka yang paling duka. Potret yang sungguh menyayat dan menguras energi jiwa. Mengapa demikian? Di dalam potret itu, tampak dua orang bocah kumal dan bertelanjang dada, sambil mata dukanya menatap langit gulita.
Sang Kakak tampak sedang merangkul tengkuk Adiknya yang duduk di atas pahanya sambil mata sendunya menatap langit gulita, sedang tangan kanannya terulur ke angkasa raya.
Sang Adik tampak terkatup kedua bola matanya itu, terkulai lemah tak bertenaga di atas pangkuan sang Kakak. Tampak sebuah pemandangan yang mengharukan dada sendu kita di tengah abad dua puluh satu ini.
Di Manakah Kini Dunia Kita Berada?
Ada sebuah pertanyaan menantang yang seolah mau menggugat realitas fatal ini. Ada tanya yang lahir dari sekeping dada yang hancur dan tidak berpengharapan lagi. Sebuah tanya dari balik lembah keputusasaan. Sebuah tanya dari balik kutukan lingkaran waktu, bernama abad dua puluh satu.
“Di manakah kini dunia kita sedang berada?”
Sambil menunggu sebuah sahutan yang tidak pasti, tampak seuntai tangan terulur, tepat pada dada kedua bocah sekarat itu. Apa makna dari setangkai uluran tangan itu? Apa hendak dan maunya? Ya, inilah realitas dukanya wajah kita di abad dua puluh satu ini.
Dunia Kita yang Lapar Segalanya
Rasa lapar, haus, dan dahaga panjang adalah milik semua makhluk hidup di jagad hidup nan fana ini. Juga ternyata, tidak hanya sepasang rusa yang haus dan dahaga jiwanya, namun makhluk manusia pun memiliki kerinduan yang sama.
Dunia kita kini ternyata sangat membutuhkan cinta dan perhatian dari sesamanya. Dunia kita sedang menantikan hati dan uluran tangan dari sesamanya. Ya, antara perut lapar, dada dahaga, serta hati yang kerontang merana. Inilah kerinduan terdalam dari dunia kita kini.
Selembar Potret adalah Ekspresi dari sebuah Fakta
Selembar potret adalah simbolisasi dari seluruh realitas hidup ini. Ia mewakili sepak terjang dan amburadulnya gaya hidup dunia kita kini. Ya, sebuah dunia yang kikir dan pelit jiwanya untuk peduli kepada sesama.
Sambil menggores pena tentang getirnya misteri kehidupan ini, sementara itu jerit kalbuku sempat bertanya, “Ya Bunda Theresa, di manakah engkau kini berada? “Kirimkan kami spirit bahanamu berupa bara api kasih yang sanggup kembakar laknat jiwa kami di abad dua puluh satu ini.”
Kirimkan Kami Bara Api Kasihmu
Kirimkan kami bara api kasihmu yang sanggup menghapus tidak saja rasa lapar dan dahaga jiwa kami. Tapi lebih-lebih kobarkan jiwa kami agar sanggup menapaki lagi jalan salib hidupmu dan api perjuangan yang pernah engkau jalani di bumi ini.
Siapakah yang sanggup menghapus luka dan duka jiwa kami di abad dua puluh satu ini?
Engkaukah?
Kediri, 1 Agustus 2025

