Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Saya berdoa agar mereka menemukan empati, rahmat, dan yang paling penting belas kasihan.”
(Pharrell Williams)
Menurut Williams, para pemimpin dan penguasa tidak akan ada di posisi mereka tanpa peran masyarakat sipil. Itu sebabnya, mereka perlu rendah hati. “Jadi, tolonglah empati, rahmat, dan bekas kasihan,” ucap penyanyi lagu ‘Happy’ ini. Nah, demikian sebuah seruan mulia yang mengalir deras dari bibir tulusnya di Los Angeles, (AS) di saat ia mendapat penghargaan Dr Dre Global Impact Award. Kamis (29/1/2026) malam. Kompas, kolom Sosok, berjudul, “Punya Empati” Jumat, (6/2/2006).
Betapa Pentingnya Sikap Empati itu
“Kematian secara nurani telah diawali, tatkala manusia tidak memiliki empati kepada sesamanya. Di kala itu, sesungguhnya, manusia telah mati secara nurani, sekalipun tubuh jasmaninya masih berkeliaran di atas jagad hidup ini,” demikian turut Mother Theresa.
Sungguh, betapa vitalnya, sikap “rendah hati, empati, dan belas kasih” itu di dalam kehidupan ini, agar dunia kita tidak kehabisan narwastu cinta. Banyak orang di sekeliling kita, ternyata menderita kesepian dan kehampaan secara rohani, karena ketiadaan rahmat, empati, serta cinta dari sesamanya.
Bukankah pribadi yang ‘rendah hati’ itu akan selalu sadar akan keterbatasannya, ia pun ikhlas dan rela mau belajar dari kesalahannya, dan bahkan ia pun berani untuk menerima kritikan.
Bukankah sikap ‘empati’ itu akan memampukan kita turut merasakan penderitaan orang lain dan bahkan mau berusaha untuk membangun relasi kasih dengan sesama?
Bukankah pula sikap ‘berbelas kasih’ itu akan memampukan kita untuk peduli dengan kondisi riil orang lain dan bahkan siap untuk membuka dan mengulurkan tangannya bagi sesamanya?
Ya, kita sungguh merindukan sosok-sosok manusia yang ‘terpanggil dan terberkati’ demi membahagiakan sesama manusia lewat sikap pedulinya.
Refleksi
Di manakah Sekeping Hatimu Kini Berada?
- Bukankah kemuliaan seorang anak manusia itu dapat ditakar justru lewat sikap empatinya?
- Pandangilah, bagaimanakah cara dia mengekspresikan seluruh gerak-gerik hidupnya?
- Bagaimanakah reaksinya, kala ada sebuah penderitaan di hadapannya? Lewat otak ataukah hatinya dalam bersikap?
- Manusia sejati itu bukan sekadar sebuah kalkulator, melainkan ia bagaikan sekeping mentari yang menyinari, menghangati, dan menghidupi apa dan siapa pun.
Marilah kita jadi seorang manusia yang sungguh manusia!
Kediri, 7 Februari 2026

