“Kembalilah kepada-Ku dengan segenap hati. Ini bukan tentang penampilan. Melainkan tentang pulang kembali.”
Allah yang penuh belas kasih.
Melalui Nabi Yoel Engkau memanggil dengan lembut namun tegas: “Kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu.” Bukan sekadar memperbaiki perilaku, melainlan kembali kepada Pribadi-Mu. Prapaskah dimulai bukan dengan ancaman,melainkan dengan undangan kasih.
Mazmur 51 jadi doa kami: “Kasihanilah aku, ya Allah…
Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku.” Kami tidak hanya butuh disiplin, tapi butuh belas kasih. Kami tidak hanya butuh tekad, tapi butuh rahmat.
Dalam Injil, Yesus menyingkapkan motivasi hati: “Doa, puasa, sedekah itu semuanya baik dan kudus.” Hal itu bisa berubah jadi ajang pamer, jika kami mencari pujian manusia.
Betapa mudahnya kami ingin dilihat. Halusnya keinginan untuk dianggap rohani. Tapi Allah melihat yang tersembunyi.
Sedekah sejati bukan sekadar kebaikan sosial, tapi itu adalah kasih kepada Kristus dalam sesama. Ketika kami memberi dengan tulus, orang lain bukan hanya menerima bantuan, tapi mereka mengalami pemeliharaan-Nya.
Puasa sejati bukan sekadar menahan lapar; tapi melatih jiwa untuk merindukan Allah lebih dari segalanya. Tubuh kami lapar akan makanan, pikiran kami haus hiburan, hati kami lapar akan perhatian. Jika tidak diatur, semua itu menguasai kami.
Puasa menata kembali keinginan kami. Di balik setiap rasa lapar,
ada kerinduan terdalam: kerinduan akan Allah yang hidup. Doa bukan sekadar berkata-kata cepat sebelum beraktivitas, melainkan masuk ke kamar hati, menutup pintu, dan tinggal bersama Bapa yang melihat dalam keheningan.
Rasul Paulus berseru: “Kami ini adalah utusan Kristus… berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”
Ini bukan sekadar ajakan liturgis. Ini mendesak. Sekaranglah waktunya. Hari ini adalah hari keselamatan.
Rabu Abu mengingatkan kami, bahwa kami debu, rapuh, dan sementara. Tapi debu yang Engkau hembusi dengan nafas kehidupan.
Kecil, tapi dikasihi tanpa batas.
Tuhan Yesus, ketika abu di dahi kami memudar, jangan biarkan semangat pertobatan ikut memudar. Biarlah doa jadi nafas harian kami. Puasa membebaskan kami dari segala yang menggantikan Engkau. Sedekah memancarkan kerahiman-Mu.
Tuntun kami sepanjang masa Prapaskah ini menuju iman yang lebih teguh, pertobatan yang lebih dalam, dan kasih yang lebih murni.
Hingga kami tiba pada sukacita Paskah dan memuliakan Kerahiman Ilahi-Mu dengan hati yang diperbarui.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

