” Your destiny is determined by your choose and decisions.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Dalam hidup ini kadang kita berpikir, bahwa semua yang kita alami itu sudah ditentukan Tuhan. Nasib, ya, seperti ini. Haris hidup, ya, harus begini. Ini dan itu yang manusiawi.
Thomas Aquinas penulis Suma Theologia, menyebut keadaan ini sebagai “the will of God.” Bukan ditakdirkan, melainkan ditentukan.
Thomas Aquinas membagi dalam dua bentuk:
Pertama: ‘antecedent will’. Kehendak Tuhan yang universal. Di mana Tuhan menghendaki semua manusia selamat dan memiliki pengetahuan akan kebenaran.
Kedua: ‘consequent will’. Meski Tuhan sudah menentukan, tapi kehendak Tuhan itu melibatkan kehendak bebas manusia. Dalam arti ini tak ada kata kebetulan, ataupun takdir. Karena di dalamnya meski hidup ada dalam kuasa Tuhan namun Tuhan melibatkan kehendak bebas dan keterlibatan manusia. Saat hal buruk terjadi, itu bukan takdir, tapi Tuhan mengizinkan. Karena Tuhan melihat, bahwa itu semua bisa mendatangkan kebaikan bagi kita.
“Destiny is a situations that came to you, wich are beyond your control.” Tidak bisa kita memilih lahir di mana, orangtua yang seperti apa. Bahkan kita juga tidak bisa memilih wajah, kulit, rambut yang seperti apa saat kita lahir. Semua keadaan itu mendatangi dan membentuk adanya kita.
“The response of those situations is my choices. Response is not detiny.” Respon kita terhadap situasi, keadaan, peristiwa, dan pengalaman yang kita buat itu bukan takdir. Apa yang kita pilih, menjadi pilihan atas kehendak bebas, dan apa yang kita putuskan, menentukan nasib kita ke depan. Ingat, apa yang kita pilih adalah pilihan kita dan ketika kita memilihnya, itulah yang menentukan takdir masa depan kita.
Menjadi seperti apa kita, yang jelas ada dalam bingkai besar kehendak Tuhan, namun Tuhan melibatkan kita yang memilki kehendak bebas dalam merespon, memilih memutuskan, dan dalam bertindak.
Selalu bijak menyikapi, karena masa depan itu kita sendiri yang menentukan dan Allah yang merestui.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

