| Red-Joss.com | Martha, Maria, dan Lazarus. Tiga pribadi dari Betania ini sungguh dikasihi oleh Tuhan Yesus. Kita juga dapat belajar dari pengalaman iman mereka.
Tuhan Yesus sering mengunjungi keluarga ini. Ia disambut dengan keramahan dan dijamu dengan baik oleh mereka. Bahkan Ia merasakan kasih yang tulus dari pribadi-pribadi di Betania ini.
Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mempunya ikatan batin yang amat kuat dengan keluarga Betania ini. Mereka saling mengenal dengan baik antara yang satu dengan yang lain.
Maka, saat Martha memprotes pada Tuhan Yesus, karena Maria tidak membantunya, ditanggapi santai oleh Tuhan Yesus. Ia sama sekali tidak sampai menimbulkan iri hati atau sakit hati.
Maria bermanja dengan Tuhan Yesus, dan Ia membiarkannya agar Maria mendengarkan kisah-kisah perjalanan dan pengajaran-Nya bersama dengan umat lainnya.
Lazarus diberitakan meninggal, Tuhan Yesus menangis, karena Dia sungguh mencintai Lazarus.
Itulah bukti, betapa Tuhan Yesus sungguh mengasihi keluarga Betania ini.
Setiap keluarga kristiani tentu mau mengalami kasih yang sama dari Tuhan Yesus. Misalnya, dikunjungi oleh Tuhan Yesus. Menerima dan menjamu-Nya. Mengenal Tuhan Yesus dan selalu diberkati-Nya.
Dari pengenalan itu, mereka belajar dari-Nya. Martha yang awalnya sibuk, mengenali juga kualitas dari Sang Guru, sahabatnya. Meskipun catatannya: dia belum sempurna mengenal-Nya. Belum mendalam. Tentunya pengalaman Martha ini berbeda dengan pengalaman Maria atau Lazarus.
Hal itu juga terjadi dalam iman kita: bisa saja kita sudah mengenal, tapi tidak atau belum memahami secara mendalam. Tuhan Yesus juga kadang menyinggung ini dengan bahasa yang mudah dimengerti. Misalnya, “ada yang mau melihat tetapi tidak bisa melihat. Ada yang mau mendengar, tetapi tidak bisa mendengar.” Atau “punya mata, tapi tidak mau melihat. Punya telinga, tapi tidak mau mendengar.” Terus mau diapain lagi yang tipe-tipe begini?
Padahal pengalaman ini itu tidak berhenti pada pengenalan, tapi harus sampai kepada pemahaman.
Martha mengenal Tuhan, tapi belum memahami. Lalu, Tuhan Yesus menuntunnya dengan baik. Sehingga akhirnya lewat dialog itu muncul kata-kata yang luar biasa dari Tuhan Yesus:
“Akulah Kebangkitan dan Hidup.”
Ini adalah salah satu kutipan ayat Kitab Suci favorit untuk dituliskan di batu nisan kita. Kutipan ayat itu menggambarkan tentang proses perjalanan iman, yaitu dari mengenal, lalu memahami dan sungguh percaya kepada-Nya sampai mati. Karena Dia sungguh menjadi jaminan bagi setiap orang Kristiani yang terus memberikan hidup dan kebangkitan yang abadi.
Pegang iman kita dengan kuat dan jangan pernah dilepaskan atau digantikan dengan yang lain. Tuhan Yesus memberkati kita hari ini dan selama-lamanya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

