Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Josd.com | Tulisan reflektif ini, bertolak dari amanat agung sebuah “Puisi Terakhir,” karya sang ‘burung merak’ alias W.S. Rendra.
Lewat amanat puisi ini, kita diajak untuk ‘sadar dan tahu diri’. Bahwa sesungguhnya, segala sesuatu yang kita miliki ini hanyalah barang titipan. Kita bukan sang pemilik sesungguhnya.
Mobil mewah kita, bukan milik kita. Rumah mewah bagai istana dongeng, bukan milik kita. Bahkan putra-putri kita nan ganteng cantik, juga bukan milik kita. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang akan menentukan hari depannya sendiri.
Ternyata semua itu hanya titipan Tuhan. Ya, tentu, semua yang berstatus titipan, berarti saya dan Anda hanyalah penerima titipan untuk menjaga serta merawatnya. Kelak pemiliknya akan mengambil pulang sesuai kehendaknya.
“Mengapa kita justru merasa sangat berat dan berkeberatan, kala pemiliknya meminta kembali dari tangan kita?”
“Mengapa kita harus berkeberatan dan malah menolaknya? Bukankah semua itu bukan milik kita?”
Disadari atau tidak, ternyata jauh di dasar lubuk jiwa, kita justru berpendapat, bahwa semua itu sudah menjadi milik kita. Mengapa kita harus bersikap tarik ulur dengan sang pemilik sejati?
Bukankah Sang Dia itu, bukan mitra dagangku, tapi Dia adalah Sang Kekasihku.
Maka, Tuhan, ajari kami untuk bersikap tulus dan ikhlas sesuai kehendak-Mu, dan bukan menurut kehendak kami. Karena bukankah di dalam suatu kesempatan, Engkau pun pernah bersabda, “Rancangan-Ku, Bukanlah rancanganmu.”
Ya, Tuhan, ajarilah kami, untuk senantiasa sadar dan tahu bersyukur kepada-Mu!
…
Kediri, 11 Oktober 2023

