Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Musuh dari musuhku adalah temanku”
(Adagium Dunia)
“Saat musuh maju, mundur. Saat dia berhenti, ganggu. Saat dia lelah, serang. Saat dia mundur, kejar.”
(Peribahasa Kita)
| Red-Joss.com | Mendengar dan memahami makna idiom ‘musuh dalam selimut’ terasa sudah sungguh menyakitkan hati kita. Seolah-olah ada sebilah pedang tajam dari dalam lipatan sarung hidup yang menghujam ke hulu jantung kita.
Ya, benar, ternyata sungguh menyakitkan. Adagium ini pun sering disinonimkan dengan ‘bagai duri di dalam daging’. Atau ‘ibarat menggunting di dalam lipatan’ atau ‘laksana api di dalam sekam’. Hal ini justru mau mendeskripsikan, bahwa musuh itu, ternyata orang terdekat kita.
Apa itu musuh di dalam selimut? Orang terdekat yang berkhianat kepada kita. Hal ini juga sebagai sebuah sindiran bagi seorang yang kerap membicarakan keburukan kita dari belakang. Dia justru terlihat sangat baik, padahal sebaliknya. Inilah musuh yang sungguh berbahaya!
Tidak jarang di dalam hidup ini, kita mendengar atau bahkan mengalami sendiri, peristiwa yang sangat menyakitkan ini. Seorang kepercayaan kita berani menikam jantung persahabatan antar kita dari belakang dan di depan mata kita.
“Musuh dari musuhku adalah temanku” (Amicus meus, inimicus inimici mei), adalah adagium yang sudah dikenal luas di Eropa sejak abad ke-18, justru sangat relevan untuk mendeskripsikan realitas hidup persahabatan kita sekarang ini. Orang Inggris menyebutnya, “My friend, the enemy of my enemy.”
Apa yang perlu diwaspadai dalam hidup dan persahabatan ini? Ternyata, tidak sedikit dari suatu persahabatan yang diwarnai kecurangan terselubung model ini. Yang akhirnya, juga mampu meruntuhkan titian persahabatan antar kita. Yang tersisa, justru secuil kepahitan hidup yang menganga lebar di depan mata kesadaran kita.
Sayang seribu sayang! Air susu dibalas air tuba.
…
Kediri, 10 Oktober 2023

