| Red-Joss.com | Saat mendengar perumpamaan dan homili tentang kebun anggur, terbayang sedang terjadi penyalah-gunaan wewenang yang dilakukan oleh beberapa pekerja.
Kemampuan dan kuasa yang pada mulanya disadari sebagai diberikan dan sesuatu yang dipercayakan itu justru kemudian dianggap sebagai milik sendiri.
Dalam pelayanan bisa juga terjadi hal serupa. Orang-orang yang kita layani seharusnya dibawa untuk mengagumi Tuhan, bukan mengagumi diri kita sendiri. Tidak hanya dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, tapi dalam kehidupan sehari-hari pun hal semacam ini kerap terjadi.
Berapa banyak orang yang lupa, bahwa segala pencapaian yang dapat diraih, baik itu harta, jabatan atau pun karir adalah, karena Tuhan memfasilitasi kita dengan segala yang baik. Kita hanya menggarap dan mengolah apa yang Tuhan sudah sediakan dalam hidup kita. Tapi, ketika berhasil, alih-alih kita memberikan apa yang menjadi hak Tuhan, sebaliknya kita justru mengklaim bahwa semuanya adalah milik kita.
Ketika Maria dapat info dari Malaikat akan menjadi Ibu Tuhan, ia tidak berniat sedikit pun untuk membuat TikTok atau sejenisnya agar viral, kecuali ungkapan bersahaja: “Aku ini siapa, sih, koq sampai segitunya? Tapi, kalau itu kehendak-Nya, ya… ‘sendiko dawuh’. Terjadilah menurut perkataanmu itu.”
Sungguh sikap yang elok sebagai teladan iman.
…
Jlitheng

