Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kepedihan itu ibarat luka berdarah, yang akan kembali berdarah kala dikenang.”
(Didaktika Hidup)
…
| Red-Joss.com | Sesekali cobalah untuk berefleksi tentang sepotong kepedihan hidup sendiri. Meski seolah sudah jauh terkubur, tapi kenyataannya segera berdarah lagi, ketika dikenang kembali.
Sejatinya sekeping hati manusia itu hanya sanggup melupakan, tapi sering kali tidak mampu menyembuhkan dan menuntaskannya. Sehingga, sesungguhnya luka lama itu belum sepenuhnya sembuh.
Tulisan saya ini terinspirasi oleh sepenggal puisi di harian Kompas, (8/10/2023).
Kanjuruhan Setahun Berlalu
Luka sayatan pisau akan sembuh, namun luka hati akan menyayat jiwa selamanya.
Setahun berlalu, teman, kekasih, sahabat, kakak, anak, cucu pergi dengan cara yang pilu.
Mendung sehari setelah kerusuhan dan panas terik setahun kemudian tidak mampu menyapu tetes air mata yang seolah tidak pernah berhenti.
Kanjuruhan, tempat kegembiraan dan kesedihan.
Sudah, cukup di situ!
Itulah beberapa penggalan puisi mengenang perisitiwa pahit pedih di Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang.
Sungguh, jika kita rela mengenang kembali sebuah kisah kepahitan, kita harus berani juga untuk kembali membuka sebuah luka lama. Biasanya, luka itu pun segera berdarah kembali.
Bagai membangunkan seekor harimau tidur, maka peristiwa itu pun akan segera bergolak lagi. Jadi, sesungguhnya, betapa rapuhnya jiwa kita sang manusia ini.
“Ya Tuhan, Sang Maha Pengampun, sudilah menyembuhkan luka-luka jiwa duka kami dengan bilur-bilur kerahiman-Mu!”
…
Kediri,ย 8ย Oktoberย 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

