| Red-Joss.com | Saya sering menjumpai Bapak sepuh yang tinggal di depan rumah itu menebarkan remah-remah beras ke jalanan. Lalu tidak lama datang berbagai macam burung kecil untuk makan remah-remah itu.
Dalam suatu kesempatan saya bertanya tentang alasan Bapak itu melemparkan remah-remah beras itu ke jalan? Ternyata alasan Bapak itu sederhana, karena “Burung-burung itu makhluk hidup yang membutuhkan makan.”
Kebiasaan Bapak yang memberi makan pada burung itu muncul dalam pertemuan di lingkungan, ketika ada pertanyaan tentang, bagaimana menghadirkan wajah Tuhan Sang Cinta itu ke dalam perjumpaan kita dengan sesama kita?
Suatu pemahaman baru hadir. Bahwa kita tidak dapat memberi sesuatu yang tidak dimiliki. Begitu pula kita tidak dapat menghadirkan wajah Tuhan, apabila IA pertama-tama tidak hadir dan tinggal dalam hidup kita.
Setiap kebaikan, bahkan yang paling sederhana, sesungguhnya adalah sebuah undangan atas kehadiran-Nya dalam hidup kita.
Burung liar di jalan, sesama yang membutuhkan pertolongan, dan sekadar doa pengharapan adalah ungkapan nyata kerinduan hati kita akan kehadiran-Nya. Itulah misteri di balik sukacita, karena Tuhan hidup dalam hati kita.
Saya yakin-seyakinnya, itulah saat di mana Tuhan berkenan menjawab kerinduan hati mereka. Bahwa hal baik yang mengalir ke luar hati itu, karena Tuhan menggunakan mereka untuk menjadi saluran berkat-Nya.
…
Herry Wibowo

