Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah layang-layang dapat terbang dan mengangkasa, pertama-tama bukan karena ada tiupan angin, melainkan karena ada kehendak dan tangan yang mengendalikannya.”
(Pesan Kearifan Hidup)
…
| Red-Joss.com | Layang-layang, semua orang tentu mengenalnya. Dari dulu hingga kini, permainan unik dan khas ini, masih merebut hati masyarakat, terutama hati anak-anak.
Kini, layang-layang itu kian bervariasi, baik bentuk dan tata warnanya. Bahkan ada juga festival layang-layang yang tak kalah meriah dengan festival budaya daerah.
Secara filosofis di balik permainan layang-layang itu terkandung nilai dan makna lain di dalamnya
Ada pun bahan layang-layang itu terdiri dari irisan kayu atau bambu tipis yang disilangkan dan dibaluti kertas tipis berwarna-warni dan diberi seuntai ekor yang menjuntai.
Proses memainkannya, biasanya diadakan di tempat yang terbuka, terhindar dari rimbunan pepohonan, dan dibutuhkan tiupan angin.
Selain itu ada aspek sensial dan penting, yakni hadirnya seutas tali panjang dan tangan manusia yang lincah mengendalikannya.
Layang-layang itu hanya dapat dimainkan dengan cara dinaikkan ke angkasa. Karena ada kehendak dan niat sang pengendalinya.
Begitu pula dengan hidup dan kehidupan kita di atas bumi ini. Bukankah kehidupan kita juga merupakan sebuah permainan?
Tuhanlah sang pengendali layang-layang hidup kita. Dihubungkannya kita dengan seutas temali rahmat yang mengalir dari tangan kasih-Nya selaku pengatur dan pengendali hidup kita. Kita diizinkan mengarungi angkasa kehidupan ini. Seluruh proses permainan hidup ini hanya berlangsung atas kehendak dan kuasa-Nya.
Lalu kapan kita akan turun dari angkasa biru kehidupan? Itu pun atas kehendak-Nya semata.
Kita, pada galibnya, hanyalah sebuah layang-layang yang dimainkan-Nya sesuai kehendak-Nya.
…
Kediri,ย 1ย Oktoberย 2023

