“Setia itu pilihan dan keputusan, tapi selingkuh itu kehancuran.” -Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Semua orang bisa mengatakan cinta, tapi tak semua orang bisa benar-benar setia. Perselingkuhan bisa terjadi pada berbagai ragam pasangan. Baik yang masih pacaran, tunangan, pasangan muda, dan pasangan tua. Yang jelas selingkuh bukan bahan candaan, dan harus dijauhi, bahkan dihindari. Karena selingkuh itu selingan indah yang membuat keluarga runtuh dan hancur berantakan. Hati hancur, rumah tangga hancur, masa depan pun hancur.
Hati-hati dan ingat tiga hal penyebab dan solusi untuk atasi perselingkuhan itu.
Pertama: hilangnya kedekatan atau keintiman. Karena sudah nikah jadi tidak perlu mesra-mesraan lagi. Hilangnya kedekatan fisik bisa menjadi faktor penyebab. Sudah tidak seromantis dulu. Tapi tidak berarti harus PDA alias Public Display of Affection. Bukan berarti kemesraan itu harus dipamerkan.
Dalam buku “The Truth on Chrating,” Gery Neuman mengatakan, bahwa penyebab utama perselingkuhan itu bukan soal hilangnya keintiman fisik, melainkan hilangnya keintiman emosional. Tak lagi bicara dari hati-ke hati, terjadi ‘suffering in silence’, menderita, iya, tapi semuanya itu dipendam dan tidak dibicarakan. Meledak dan terjadilah perselingkuhan itu.
Solusinya, walaupun sudah mempunyai anak lebih dari dua, walaupun sudah bercucu, luangkan waktu untuk pacaran. Pacaran itu ngobrolin yang kurang atau tidak penting, yang penting ngobrol. Berikanlah ‘physical touch’. Sentuhan, belaian itu penting. Kadang pelukan bisa menyelamatkan perkawinan.
Kedua: pengaruh lingkungan. Ternyata pengaruh orang lain bisa melahirkan perselingkuhan. Sebuah survei menunjukan ternyata lebih dari 75 % pria yang melakukan hubungan badan dengan wanita yang bukan istrinya. Mereka mengaku, bahwa mereka melakukan itu karena teman mereka juga menghianati istri mereka. Bukan cuma teman, tapi tempat-tempat yang menggoda.
Solusinya, jauhi orang yang memberi contoh dan pengaruh buruk itu. Kalau mereka melakukan bukan berarti kita juga boleh melakukan hal yang sama. Jaga hati, jaga diri.
Ketiga: terlalu sering di media sosial. Ternyata menghabiskan waktu di sosmed, memperbesar resiko perselingkuhan. Makin lama di dunia maya, kian tinggi resiko perselingkuhan. Hubungan virtual di dunia maya itu bisa berpengaruh terhadap pasangan di dunia nyata. Bahkan belakangan ini perselingkuhan yang berasal dari aktivitas medsos makin marak terjadi. Semua dirahasiakan, aktivitas dirahasiakan.
Solusinya, dunia maya memang mengasyikkan, tapi ingat kita hidup di dunia nyata. Kurangi waktu screen timenya dan luangkan waktu dengan pasangan. Dekatkan keluarga dengan Tuhan. Kalau bukan kita yang menjaga biarlah Tuhan sendiri yang menjaga.
Mungkin dia pindah ke lain hati karena anda kurang peduli. Godaan akan selalu ada, tapi bergantung bagaimana kita menyikapinya. Cinta pernikahan bukan hanya dari tatapan mata, tapi sebuah komitmen dan tanggung jawab bersama. Jaga diri baik-baik, jaga pasangan baik-baik, dan jaga keluarga agar dekat dengan Sang Pencipta.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj.

