Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku tak sudi membiarkan dan meninggalkan engkau.”
(Yoshua 1: 5)
…
| Red-Joss.com | Apakah saudara masih ingat, kisah mengharukan saat seorang Imam Katolik mengunjungi sebuah lembaga permasyarakatan?
Saat itu, sang terpidana mati sudah didudukkan di atas sebuah kursi listrik.
“Saudaraku, apakah permintaan terakhirmu?” tanya Pastor.
“Ya, Pastor, tinggallah bersama saya dan peganglah erat tangan saya,” jawab si terpidana mati itu.
Bagaimana perasaan dan sikap batin saudara, mendengar jawaban si terpidana mati itu? Terharu dan sedih? Atau tidak merasakan apa-apa, karena dia toh pantas dihukum mati karena kesalahannya? Atau mungkin masih ada jawaban yang lain?
Secara psikologis, sungguh, dia tentu sangat membutuhkan peneguhan dan kekuatan dari kehadiran orang lain. Dia sangat membutuhkan kehadiran sesama, walau hanya sesaat.
Mengapa dia justru menggenggam tangan Pastor dengan sangat erat? Tentu dia sungguh membutuhkan suatu pegangan yang mampu menentramkan dan menstabilkan gejolak emosinya. Di sana tentu, ada rasa takut yang memuncak, walau tentu, dia sudah mulai pasrah dan menyerah pada keadaan yang mencekam itu.
Saya jadi ingat akan kegelisahan Yesus di Getsemani, saat hendak ditangkap dan memulai kisah penderitaan-Nya. Bahkan, Alkitab pun memberikan kesaksian, bahwa di kala itu, muncul keringat dalam wujud darah. Ketakutan yang sungguh dasyat hingga mengucurkan butir-butir darah.
Jika kita boleh bertanya lebih jauh dan lebih rohani, di manakah Tuhan, Sang Maha Rahim dan si Pengampun Maha Ajaib di kala itu? Tidak tahukah Dia, bahwa ada seorang anak manusia yang sungguh sangat getir deritanya dan memohon pertolongan?
Kita perlu bersikap arif dan mampu mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Kita perlu bersikap cerdas dan mampu memilah serta memosisikan segala persoalan pada tempatnya. Kita tidak sekadar mau menggeneralisasikannya sesuai versi kita.
Hal itu sangat menguatkan, jika kita tetap mau percaya, bahwa di saat yang paling genting pun Tuhan justru akan menggenggam lengan kita. Bukankah, Dia pun akan kembali merentangkan tangan kuasa-Nya demi menentramkan hati kita?
Dia sungguh tidak pernah membiarkan kita seorang diri di depan pengadilan kehidupan ini. Sungguh, Dia adalah Tuhan yang setia hingga kekal.
Maka, Pastor juga sungguh tahu, apa yang seharusnya dia lakukan saat itu. Maka, digenggamnya sangat erat jemari kegelisahan si terpidana itu sesaat sebelum menghadapi maut.
Apa permintaan terakhir kita, di saat menghadapi permasalahan hidup?
…
Kediri, 30ย Septemberย 2023

