“No pains, no gains” Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Semua dari kita tentu pernah meruncingi pencil, baik dengan pisau atau alat peruncing.
“The pencil has to go through painful sharpening.”
Hidup ini juga perlu dibuat runcing, bermakna, dan berguna agar bisa membuat goresan yang menjadi inspirasi bagi orang lain. Kadang keras, tajam, sakit, dan menderita saat dibentuk. Ingat ‘no pains no gains’ – tak ada kesuksesan tanpa kerja keras, penderitaan dan perjuangan.
Itulah proses belajar, tidak banyak protes tapi berproses. Bicara soal proses belajar saya ingat kata dalam bahasa sansekerta VIDYARTHI. Vidya: knowledge (pengetahuan), Arthi: one who desires knowledge (kehendak kuat).
Paling tidak ada 5 kualitas dalam berproses:
Pertama: Kaka chestha – ‘The effort of a crow’. Perlu kerja keras untuk mendapatkan hasil maksimal. Gagal, berusaha lagi. Jatuh, bangkit lagi. Semangat berjuang itulah porses dalam mengasah hidup.
Kedua: Bako dhyanam – ‘the intense focus of a crane’. Fokus, kita fokus itu ibarat mata ini terarah pada sasaran. Seperti bangau yang bersiap menangkap ikan. Ia fokus melihat ke dalam air menunggu ikan besar. Ia tak terkecoh dengan ikan kecil. Fokus pada hal penting dan besar yang kita cita-citakan. Maka hal-hal kecil seperti komentar, cuitan, omongan, kritikan, dan rintangan itu tidak akan mempengarui hidup dan tujuan kita. Karena kita fokus untuk menjalani hidup ini.
Ketiga: Shwan Nidra – ‘The sleep of a dog’, alias waspada dan berjaga. Coba perhatikan anjing yang tidur itu. Meski mata tertutup, ia selalu waspada dan berjaga. Sepelan apa pun kita melangkah anjing itu akan terbangun. Waspada bukan berarti kepoan atau baperan. Waspada dan berjaga berarti selalu punya ketajaman untuk melihat peluang dan berani mengambil peluang. Ingat Tuhan pun meminta kita untuk selalu berjaga sambil berdoa.
Keempat: Alpahari – ‘one who seeking knowledge should deat less’. Pengetahuan bisa datang dari mana saja. Berhati-hati dan bijak dalam memfilter semua itu. Bijak dalam memilah input mana yang penting bagi hidup dan masa depan kita.
Kelima: Grihtyaagi – ‘leaving our comfort zone’. Ke luarlah dari zona nyaman. Karena tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman dan tak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan.
Lima kualitas itulah yang akan membuat proses penajaman hidup kita, sehingga berguna dan bermakna. Sekaligus membuat goresan hidup kita menjadi inspirasi bagi orang lain.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

